Menteri Under Thirty

BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi akan masukkan anak muda usia di bawah 30 tahun jadi menterinya. Ini artinya, Jokowi akan me masukkan darah muda menjadi anggota kabinetnya.

Apakah ini sesuatu yang positif dan menjanjikan optimisme bagi formasi the dream cabinet team? Ada beberapa benefit politik tentu bila yang muda jadi menteri.

Karena karir dan kiprahnya belum banyak, yang muda belum banyak catatan buruknya. Artinya, ini kesempatan bagi yang muda untuk mengukir prestasi dengan memberi kontribusi ril melalui pikiran dan tenaganya.

Berita Terkait : Papua Adalah Kita

Mereka cukup belaja dari kesalahan atau kegagalan para seniornya. Anak muda punya semangat, nyali, dan energi. Mereka bisa kerja de ngan ritme yang intens dan penuh tekanan. Mereka juga bisa bekerja di atas jam rata-rata, bisa meng-handle kekurangan jam tidur karena volume kerja yang kontinyu.

Banyak berharap mereka berani melakukan terobosan-terobosan. Anak-anak muda sejatinya masih idealis. Dengan modal idealismenya itu diharapkan kebijakan dan program Kementerian yang mereka pimpin steril dari pragmatisme.


Besar harapan integritas mereka masih terpelihara meski dihadapkan dengan godaan fee proyek. Mereka bisa menjaga diri dari ajakan kongkalingkong.

Berita Terkait : Mobil Dinas Dan Kinerja

Namun tentu ada saja skeptisisme terhadap yang muda jadi menteri. Mereka tidak punya rekam jejak bisa men-deliver kebijakan dan program dengan segala keruwetan birokrasi pemerintahan.

Mereka juga tidak punya pengalaman bagai- mana mengurusi problem-problem psikologis dalam memipin birokrasi Kementeriannya yang banyak keruwetannya.

Anak muda jadi menteri harus benar- benar menyiapkan mental menghadapi segala godaan kekua saan. Kekuasaan itu sering membuat orang baik jadi amat jahat.

Berita Terkait : Keputusan Negara

Oleh karenanya, mereka harus punya mentor yang punya pengalaman dan integritas di atas rata- rata. Harus ada yang bisa mengarahkan peran seorang pimpinan.

Presiden Jokowi harus lebih presisi menentukan siapa yang pantas dan pas untuk masuk di tim kabinetnya. Harus punya tim fit and proper test calon menterinya.


Tim ini harus merupakan orang-orang yang punya integritas, steril dari orang-orang yang punya mental jual beli kursi menteri. Tim ini tak suka main sendiri, semua harus tunduk pada guidance Presiden. Semoga kabinet men datang jauh lebih bersih, lebih profesional, dan hebat. Aamiin ***