ISWARA DARMAYANA
ISWARA DARMAYANA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Proses seleksi Calon Pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus berlangsung.

Setelah Jumat kemarin, Panitia Seleksi (Pansel) KPK mengumumkan 20 nama yang lolos profile assessment, tahap berikutnya adalah tes kesehatan, wawancara dan uji publik.

Dari semua proses seleksi yang mesti dilalui Capim KPK, kita berharap pihak Pansel menjadikan aspek integritas calon sebagai penentu utama.

Berita Terkait : Ekonomi Rusak Gara-gara Izin

Artinya, Capim yang memiliki rekam jejak buruk atau cacat etik tidak dipilih jadi pimpinan lembaga anti rasuah itu. Pansel sudah saatnya fokus memperhatikan cacat etik yang kemungkinan dimiliki peserta seleksi.

Pansel hendaknya tidak “silau” dengan gagasan tentang langkah-langkah pemberantasan korupsi yang dilontarkan para calon.

Siapa Capim yang terpilih nanti, akan menentukan efektif atau tidaknya peran KPK dalam memerangi korupsi dan mencegah pencurian uang negara.

Berita Terkait : Makelar Izin Impor

Pimpinan KPK yang punya integritas tinggi, tentu akan menjaga supaya diri dan institusinya selalu mendapat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat.

KPK itu harus mampu membongkar kasus-kasus besar. Ini memang tidak mudah, sebab tokoh di belakang kasus-kasus besar, biasanya orang kuat, orang kaya dan orang “pandai”.

Oleh karena itu, pimpinan KPK periode mendatang mesti lebih jeli memantau gerakan para calo yang mengincar proyek-proyek raksasa.

Berita Terkait : Jual Beli Jabatan

Hanya pimpinan KPK yang integritasnya tinggi, yang akan mampu menguliti proyek-proyek triliunan rupiah.

Kalau salah satu saja pimpinan KPK yang terpilih nanti punya cacat etik, maka lembaga anti rasuah ini akan menghadapi hambatan untuk bisa menuntaskan skandal korupsi yang melibatkan bangak orang.

Dengan demikian, Pansel KPK jangan ragu-ragu untuk tidak memilih calon-calon yang punya cacat etik, bermental buruk serta suka mencuri APBN. ***