Permainan Asing di Tanah Papua

BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Adanya "intervensi" asing dalam gonjang-ganjing Papua merupakan isu yang seksi untuk di-angkat. Sekaligus, merupakan isu yang sensitif. Kalau berhasil membuktikannya, kita bisa dengan benar melakukan langkah-langkah politik.

Mengapa isu intervensi asing begitu seksi dan bisa mendapat benefit politik bila benar mengelolanya, karena yang seperti ini sudah rahasia umum.

Kata asing lekat dengan sentimen terdasar yang sangat penting. Yaitu, sentimen kebangsaan atau nasionalisme. Kalau sudah mengusik rasa kabangsaan maka akan menguat perasaan bersama melawan romantisme anti kolonialisme.

Berita Terkait : Memimpin di Wilayah Krisis

Tentu bukan dalam konotasi yang leterlek Perasaan nasionalisme erat kai tan dengan menguatnya kepemilikan musuh bersama. Dengan menguatnya common enemy, maka akan terjalin sentimen untuk bersama melawannya.

Dan mudah sekali mengusik sentimen emosi massa kalau isu kolonial di mainkan. Ini terkait memori kolektif bangsa ini. Sejarah republik adalah sejarah perlawanan melawan kolonial. Kasus Papua selalu tak luput dari gorengan isu intervensi asing.

Sepertinya keduanya punya intensi untuk mendapat keuntungan politik dari hal tersebut. Oleh karena itu dirasa perlu untuk dimainkan. Peran asing masih akan bermain oleh karenanya mesti waspada.

Berita Terkait : Birokrat Super Cepat

Kita lihat proses dan akhir dari per mainan. Apakah akan nendang atau tidak. Faktanya intervensi asing itu memang terjadi di negara kelas adidaya Amerika.

Sekarang jadi sorotan di Amerika bahkan mengancam kedudukan Presiden berkuasa saat ini. Ini artinya, campur tangan asing itu ada. Terjadi.

Kelas Amerika saja kena. Apalagi tentu kelas Indonesia. Sangat besar kemungkinan, tentu dengan deal besar. Pasti tidak akan dengan cek kosong dukungan itu.

Berita Terkait : Keputusan Negara

Sekarang kita, rakyat, hanya menuntut kepada para pemimpin kita untuk tidak bermain api, dan bermain isu murahan seperti ini.

Harus punya percaya diri dan bukan zaman lagi berkonspirasi dengan asing untuk mewujudkan hawa kekuasaan. Biasa saja. Apa adanya.

Jangan berhutang budi kepada siapapun apalagi kepada Asing. Sayangin, Naudzu billahi mindzaalik. ***