SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski Papua tidak lagi sepanas tiga minggu lalu, penyelesaian masalahnya jangan sampai kendor. Jangan lengah.

Kebiasaan “panas-panas tai ayam” bisa mengganggu semangat penyelesaian Papua. Masyarakat Papua sudah melakukan tradisi bakar batu. Kalau sudah bakar batu, kata Staf khusus presiden, Lenis Kogoya, berarti sudah damai.

Panglima TNI dan Kapolri, juga sudah pulang ke Jakarta, setelah berkantor di Papua pasca kerusuhan. Meski sudah kondusif, Papua jangan dilupakan.

Menyelesaikan persoalan sampai ke akar, tetap menjadi prioritas. Rekomendasi dan saran sudah banyak disampaikan. Ide-ide untuk mencari jalan keluar masalah Papua, juga sudah sering kita dengar.

Berita Terkait : Secangkir Kopi BJ Habibie

Hampir semua stasiun TV menggelar talk show, ada pula penelitian dan berbagai pendekatan. Semuanya untuk menuntaskan persoalan Papua.

Kita berharap, apa yang sudah disampaikan itu tidak terbuang percuma. Tidak menumpuk dan berdebu. Hanya dibaca serius ketika situasi memanas, lalu dilupakan ketika kondisi mendingin. Jangan sampai kita nanti terkaget-kaget, ribut lagi, kalau ada kasus serupa meledak di kemudian hari.

Apalagi kasus Papua bukan hanya menjadi perhatian nasional, tapi internasional. Lobi internasional pihak yang menginginkan digelarnya referendum Papua, cukup kuat. Terutama di Inggris dan Pasifik.

Dalam pertemuan para menteri luar negeri wilayah Pasifik, Vanuatu sukses mendorong masalah Papua Barat agar secara formal dimasukkan ke dalam agenda pertemuan negaranegara Pasifik.

Berita Terkait : OTT Lagi, Untuk Apa?

Mereka juga berusaha mendorong masalah ini supaya dibicarakan di forum PBB. Meski negara-negara Pasifik relatif kecil, namun, kalau persoalan ini masuk PBB dan dilakukan voting, Indonesia bisa kerepotan.

Karena, seperti pengakuan seorang mantan diplomat Indonesia di PBB, hampir semua keputusan di PBB diambil melalui voting. Satu negara, satu suara.

Tidak peduli negara tersebut besar atau kecil. Haknya sama. Sekali lagi, jangan terlena melihat kondisi Papua yang tampak kondusif.

Apalagi sekarang ada beberapa isu yang menyita perhatian, seperti revisi UU KPK, pemilihan calon pimpinan KPK, mobil Esemka, pindah ibu kota negara, serta isu-isu lokal di masing-masing wilayah yang berpotensi mengalihkan perhatian kita.

Berita Terkait : Iklan dan Ibukota Baru

Kasus Papua jangan sampai seperti “api dalam sekam” yang tanpa disadari tiba-tiba meluas. Membakar. Panas. Lalu kita ribut lagi. Sibuk lagi. Bikin penelitian lagi dan berbagai macam pendekatan lagi. Begitu terus. ***