SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - InI kisah “kecil” tentang secangkir kopi BJ Habibie. Suatu pagi, di tahun 1999, Presiden BJ Habibie sudah ditunggu para utusan dari berbagai negara, di Istana.

Dari kediaman, iring-iringan konvoi presiden meluncur ke Istana untuk menemui para utusan tersebut.

Baru beberapa ratus meter, Presiden ketiga Indonesia itu tiba-tiba memerintahkan rombongan untuk kembali ke kediaman.

Rombongan kemudian mutar balik. Kembali ke kediaman. Turun dari kendaraan, BJ Habibie dengan sigap berlari masuk ke rumah. Menuju meja makan. Apa yang diambilnya? Secangkir kopi!

Berita Terkait : Baik Buruk, Dulu Sekarang

Kenapa Bapak tidak perintahkan saya untuk mengambilnya. atau, bisa kami buatkan kopi di Istana,” ajudan presiden, Kolonel TB Hasanuddin mencoba bertanya dengan nada sedikit protes.

“Oh tidak. Ini Ibumu (Ibu ainun) yang buat. Saya harus menghargainya. Beliau sudah bangun pagi-pagi, membuatkan secangkir kopi. Masa’ tidak saya minum,” jawab BJ Habibie.

Kisah itu disampaikan kembali oleh Tb Hasanuddin, dengan nada penuh penghormatan, tadi malam. “Itu yang membuat rasa hormat saya semakin dalam terhadap beliau,” kata Tb Hasanuddin yang menjadi ajudan presiden BJ Habibie pada 1998-1999.

Kisah “kecil” itu bisa menggambarkan kebesaran Habibie. Kisah dengan istrinya, Ibu Ainun, sangat melegenda.Bahkan dibuatkan film nya.

Berita Terkait : Papua Kondusif, Jangan Lengah

Rencananya,film Habibie Ainun seri ke-3 akan diluncurkan Desember 2019 ini. Habibie memang tokoh besar. Tokoh teknologi. Tokoh demokrasi. To koh kebebasan pers dan kebebasan berekspresi serta kebebasan berpendapat. Tokoh iptek dan imtaq. Itu tak bisa dipungkiri.

Menggantikan Soeharto, BJ Habibie berhasil menghilangkan kesan angker seorang presiden. Saat itu, ketika Habibie menjadi presiden, kita melihat ada sesuatu yang baru dan segar dalam atmosfer demokrasi Indonesia.

Presiden seolah turun ke bumi. Membumi. Di era Habibie, wartawan, untuk pertama kalinya, bisa melakukan wawancara doorstop. Wartawan bisa “mencegat” presiden sebelum atau seusai memasuki ruangan acara untuk diwawancarai.

Bisa menyorongkan mikrofon atau tape recorder dalam jarak dekat. Suasananya sangat informal. Hangat. Di era Orde Baru, itu tak pernah terjadi.

Berita Terkait : OTT Lagi, Untuk Apa?

Kemarin, seusai azan magrib, Habibie berpulang dalam usia 83. Benar-benar pulang ke “rumah”, menyusul istrinya, Ibu Ainun yang lebih dulu berpulang, Ibu Ainun yang selalu membuatkan kopi di pagi hari, yang bisa membuat Habibie selalu rindu dan menghargai nikmatnya kopi tersebut.

Secangkir kopi itu bisa menggambarkan kebesaran Habibie. Kebesarannya yang menjunjung kebebasan berekspresi dan berpendapat, kebebasan pers serta penghargaan terhadap demokrasi. Selamat jalan pak Habibie.***