Nasdem-PKS Ada Apa?

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tiba-tiba Nasdem yang partai koalisi pemerintah bertemu PKS yang oposisi. ada apa? Kalau amatan klasik, seperti biasa, tentu saja, “demi bangsa dan negara. Demi rakyat, bla-bla-bla dan sebagainya dan seterusnya”. Itu sangat standar.

Tapi, dalam pertemuan politik, yang selalu memiliki dua panggung; pang gung depan dan panggung belakang, tidak sekadar itu.

Kita coba “utak-atik”. Misalnya, pertemuan tersebut dimanfaatkan oleh kedua parpol untuk merebut pendukung Prabowo yang kecewa atas pilihan Prabowo yang memilih bergabung ke pemerintah.

Jumlah mereka sangat banyak. Ada 68.650.239 suara atau 44,50 persen. Para pemilih ini tersebar di banyak parpol. Di antara mereka, juga terdapat pemahaman serta sikap dan tingkat keagamaan yang berbeda-beda.

Ada yang sangat kanan, ada yang agak ke tengah, atau bahkan yang “sangat tidak kanan”. Yang nasionalis juga banyak.

Berita Terkait : Ada Lagi Yang Bebas?

Nasdem dan PKS bisa merebut sebagian di antara pemilih kecewa ini. Karena, ada survei yang mengatakan, dari 44.50 atau 68 juta pemilih Prabowo, 70 persen menginginkan Prabo wo beroposisi.

Ini pasar politik yang sangat besar. Secara political game, Nasdem dan PKS cerdas, lebih dulu atau terdepan ingin merebut pasar “galau” ini.

Dalam beberapa kesempatan, kader Nasdem juga kerap mengedepankan perlunya etika politik yakni “yang kalah di luar, yang menang di dalam”. Sasarannya jelas, ingin menyamakan perasaan dan frekuensi dengan pemilih Prabowo yang kecewa. Yang jumlahnya besar itu. Nasdem seperti ingin berkata “kita sejalan, kita kawan sekarang”.

Nasdem yang berkoalisi pemerintah bahkan lebih cekatan dibanding PAN atau Demokrat yang berada di luar. PAN dan Demokrat malah belum menentukan sikap.

Bagi PKS, pertemuan dengan partai nasionalis seperti Nasdem, bisa menetralisir citra mereka sebagai partai yang “kanan banget”.

Berita Terkait : Mahasiswa Masih Menunggu Respon

Pertemuan ini bisa menggeser citra PKS sedikit ke tengah. Dengan demikian, PKS bisa mendekati pemilih Prabowo yang galau, baik yang nasionalis atau yang “kanan” atau yang memilih berdasarkan preferensi religius.

Kesimpulan pertemuan kedua parpol yang menyebutkan “tidak ada tempat bagi intoleransi dan radikalisme” juga menguntungkan PKS. Kesimpulan ini bisa menjadi semacam deterjen bagi PKS yang cenderung dicitrakan dekat dengan “kelompok” ini.

Makna lainnya, tentu saja penjajakan untuk 2024. Baik untuk pemilu legislatif maupun pilpres. Juga untuk Pilkada serentak 2020 di 270 daerah. Hanya saja, satu yang hampir pasti, di Pilpres (dan nasional), PKS dan PDIP sepertinya sulit disatukan. Kalau di daerah, masih bisa.

Yah, itu cuma utak-atik pinggiran. Karena, motif pertemuannya mungkin tidak serumit itu. Jangan-jangan ini hanya sekadar nuansa lain dari “insiden salaman” yang terjadi di antara para pemimpin parpol.

Atau, bisa juga sebagai upaya “saling gertak” atau “ngukur kedalaman air”. Atau, bisa juga di antara para tokoh parpol ini sedang membangun atau memperkuat poros dan magnet masing-masing.

Berita Terkait : Kejutan, Tantangan dan Godaan

Lalu dimana posisi rakyat? Ya, hanya menonton saja. Seperti menonton drama atau film.

Pada saatnya nanti, ketika datang ke “bioskop” pada Pilkada serentak 2020 atau Pilpres 2024, rakyat bebas memilih film bagus, sesuai selera, bebas membeli tiket yang mereka mau. Atau bahkan tak mau membeli tiket, karena cerita filmnya enggak asyik. Plotnya berantakan. Bikin pusing. Membingungkan. ***