Pelukan Itu...

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam politik Indonesia, pelukan bisa jadi isu menarik. Sementara kita juga tahu, jangankan berpelukan, lebih dari itu, bahkan udah “kawin” pun, masih bisa “cerai”. Pecah kongsi. Bubar.

Awalnya adalah pelukan antara Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman. Pelukan itu melahirkan banyak interpretasi. misalnya, Nasdem bermain dua kaki. Koalisi pemerintah iya, oposisi juga iya.

Presiden Jokowi juga memberi komentar. Agak menyindir. Belakangan, ketegangan mereda setelah Jokowi dan Paloh juga berpelukan. Pelukan ini juga memunculkan interpretasi, seperti insiden salaman di antara para tokoh politik. Salaman dan pelukan ternyata bisa mewarnai politik nasional.

Di beberapa budaya, pelukan memiliki banyak arti. Jenisnya juga beda-beda. Bahkan, dalam budaya Barat, ada sekitar 18 jenis pelukan. Namanya juga “aneh-aneh”.

Berita Terkait : Hidup Sederhana dan Keteladanan

Misalnya, ada yang namanya “clinger” dimana salah satunya memeluk erat lebih lama sampai teman yang dipeluknya melepaskan. Menyerah. Ini menunjukkan ada dominasi secara halus. Atau, salah satu pihak meng inginkan kenyamanan lebih lama. Ada sesuatu yang ingin disampaikan walau dengan bahasa tubuh.

Ada juga pelukan yang namanya agak serem: pelukan “bomb”. Ini tak ada hubungannya dengan alat peledak.

Pelukan ini dilakukan dengan cara berlari, menyerbu orang yang ingin dipeluk, menyergap lalu melompat dan memeluknya. Pelukan ini biasa disaksikan dalam dunia olahraga. Di sepakbola, biasanya dilakukan setelah kawannya mencetak gol.

Lalu ada group hug. Biasanya dilakukan lebih dari satu orang. Jokowi dan Prabowo pernah melakukannya bersama peraih medali emas pencak silat di Asian Games 2018 lalu.

Berita Terkait : Gubernur dan 2024

Setelah pelukan berselubung Merah Putih menjelang Pilpres itu, banyak yang berharap kedua kubu, terutama para pendukung bisa samasama menahan diri. Ternyata tidak. Kedua kubu, terutama para pendukung, terli bat dalam pertarungan sangat keras dalam sejarah pilpres setelah Orde Baru. Tidak ada pelukan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.

Karena itu, pelukan jangan hanya di antara para tokoh politik. Ciptakan suasana supaya rakyat bisa saling merangkul. Berpelukan.

Para pemimpin, peluklah seluruh rakyat, sampai ke pelosok-pelosok dengan membuat kebijakan yang tidak menyakiti. Kebijakan yang membuat rakyat merasa bahwa pemerintah masih ada. Masih mencintai mereka.

Kalau hanya elite yang berpelukan, rakyat dibiarkan berantem, rasanya ku rang sempurna. Karena, rakyat tak butuh drama. Rakyat butuh solusi dalam realita kehidupan yang tak selalu ramah.

Berita Terkait : Cangkul 4.0

Kehidupan rakyat tak selalu indah seperti pelukan para tokoh. Ada Ibu yang memeluk anaknya yang sakit dan tak sanggup membawanya ke dokter. Ada pelukan seorang ayah yang memohon maaf karena belum mampu membeli kebutuhan sekolah anaknya. Mereka layak dipeluk oleh para pemimpin. ***