Menanti Gebrakan

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri-menteri baru mestinya melahirkan karya, bukannya kontroversi. Karena, hampir sebulan setelah dilantik, kita belum melihat gebrakan yang “nendang” dari para menteri. Masih datar-datar saja.

Kalau pun ada yang ramai, justru melahirkan kontroversi. Gaduh. Misalnya, Menteri Agama dengan “cadar dan celana cingkrangnya”. Menteri Pariwisata dengan “wisata halalnya” di Danau Toba dan Bali.

Lalu, Mendagri dengan wacana “mengubah Pilkada langsung menjadi pemilihan lewat DPRD”.

Berita Terkait : WIKA Jadi Kontraktor Idaman Para Karyawan di Indonesia

Gebrakan-gebrakan itu sangat ditunggu karena Presiden Jokowi memilih para menterinya untuk bekerja cepat. Produktif. Tidak berorientasi proses, tapi hasil. Para menteri adalah orang-orang terbaik dari ribuan peminat.

Banyak yang ditunggu dari para menteri baru ini. Sebut misalnya Mendikbud Nadiem Makarim. Sebagai anak muda yang sukses berbisnis di era 4.0, Nadiem dituntut melahirkan terobosan di bidang pendidikan Indonesia. Bukan sekadar “ganti menteri ganti kurikulum”.

Lalu ada Menteri Pertahanan Prabowo Subiyanto. Sebagai “menteri rasa Presiden”, Prabowo diharapkan bisa melahirkan terobosan dan gebrakan baru. Kita yakin karena Prabowo sangat menguasai permasalahan.

Berita Terkait : Staf Milenial

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga dinanti gebrakannya. Sebagai wanita Indonesia pertama yang pernah menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri tentu punya kapasitas. Dia menjadi ujung tombak.

Statusnya yang pernah terpilih sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia, juga menjadi modalnya sebagai Menteri Keuangan. Hasil yang diharapkan tentu yang di atas standar. Bukan yang biasa-biasa saja.

Lalu Menteri Kesehatan dengan masalah BPJS-nya, menteri-menteri ekonomi dengan persoalan investasi di tengah krisis keuangan yang mengancam ekonomi dunia.

Berita Terkait : Manisnya Si Gincu Merah Asal Indramayu

Radikalisme yang dibebankan khusus ke beberapa menteri juga menjadi tantangan menarik. Kementerian di bidang hukum dan sosial juga memiliki PR dan tantangan yang tak kalah beratnya.

Sejak dilantik  Presiden Jokowi pada 23 Oktober lalu, 34 menteri, 4 pejabat setingkat menteri terus ditunggu gebrakannya. Apalagi sekarang mereka dibantu para wakil menteri yang jumlahnya cukup banyak.

Seperti kata Presiden: orientasi kepada hasil, bukan proses. Bukan sekadar pencitraan. Tapi karya nyata. Konkret. Bukan kegaduhan. Bukan yang panas-panas tai ayam. Karena rakyat butuh ayamnya, bukan …nya(*)