Hidup Sederhana dan Keteladanan

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gaya hidup mewah aparat pemerintah sedang jadi sorotan. Pertama, dari Kapolri Idham Aziz. Kedua, dari Menteri BUMN Erick Thohir. Mereka meminta aparatnya tidak menganut gaya hidup hedonis, bermewah-mewah. Jangan pamer. Di media sosial maupun di kehidupan sosial.

Anjuran yang layak diapresiasi ini, bukan barang baru. Dari zaman Orde Lama, Orde Baru, sampai sekarang. Selalu ada. Sayangnya, kita belum menemukan lagi sosok Jenderal Hoegeng, Baharuddin Lopa, Natsir atau Hatta. Kisah mereka memang kisah lama. Tapi itulah warisan terbesar para pemimpin sejati: keteladanan yang tak luntur.

Berita Terkait : Uang Kopi Akan Hilang?

Mereka sudah tiada, namun keteladanannya, kesederhanaannya selalu diingat. Jadi panutan. Dari zaman ke zaman. Legend. Sampai sekarang. Tanpa keteladanan, imbauan apa pun akan sulit terwujud. Keteladanan datang dari atas. Bukan dari bawah.

Tapi sekarang, tidak jarang keteladanan justru datang dari bawah. Keteladanan lebih baik dari sejuta imbauan. Di kabinet pemerintahan Jokowi yang lalu misalnya, ada menteri yang melarang aparat pemerintah menggelar rapat di hotel. Alasannya, untuk penghematan. Sederhana. Rapatnya harus di kantor. Panganannya ubi, jagung, singkong.

Berita Terkait : Pelukan Itu...

Beberapa menteri juga pernah mengeluarkan surat edaran supaya berhemat. Sampai detil. Misalnya, kurangi kunjungan ke luar negeri, sampai penghematan tinta dan kertas. Namun, ternyata, imbauan sejenis muncul lagi, muncul lagi. Artinya memang ada yang hilang, mungkin salah, dalam kehidupan sosial dan bernegara.

Keteladan belum menjadi sistem yang bisa bekerja otomatis. Masih perlu imbauan. Perlu surat edaran. Kita berharap, imbauan dari Kapolri dan Menteri BUMN ini jangan sampai bernasib sama seperti imbauan-imbauan sebelumnya. Tidak “panas-panas tai ayam”. Diseriusi terus dengan tindak lanjut serta sanksi yang jelas dan tegas.

Berita Terkait : Gubernur dan 2024

Untuk perwira Polri dan para pejabat BUMN misalnya, perlu ada ketegasan mengenai kewajiban pelaporan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Kalau ini saja tidak ada ketegasan, kepatuhan dan kedisiplinan, jangan heran kalau imbauan hidup sederhana ini akan jadi macan ompong. Dihidupkan berulang-ulang, tapi tak punya gigi. Dan tentu saja, butuh keteladanan dari para pemimpin. Itulah hadiah paling mewah buat rakyat. Sangat sederhana.***