SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Agnez Mo dihujat karena mengaku tidak punya darah Indonesia. Tapi kenapa wacana “putra daerah” dan “bukan putra daerah” yang masih berkembang dalam pilkada seperti terabaikan?       

Sebutan “pribumi dan non pribumi”, juga masih mewarnai wacana sosial-politik kita. Masalah keindonesiaan rupanya belum tuntas.       

Ini warisan pemerintah kolonial Belanda. Saat itu, pada 1926, pemerintah colonial membagi golongan masyarakat menjadi tiga. Golongan I, orang Eropa. Golongan II, orang oriental atau Timur Asing. Golongan III, rakyat bumiputera.       

Penggolongan ini diatur dalam pasal khusus. Tujuannya, untuk mengatur keududukan di depan hukum kolonial Belanda. Ada semacam diskriminasi di sini.       

Baca Juga : Doni Minta Peserta Pilkada Patuhi Protok Kesehatan

Apakah pembedaan dan diskriminasi hukum seperti ini masih terasa sampai sekarang? Kita tentu punya jawaban masing-masing.       

Kembali ke Agnez. Wanita kelahiran Jakarta, 1 Juli 1986 ini menyampaikan pernyataan kontroversinya dalam wawancara bersama presenter Kevan Kenney dalam video YouTube Build Series NYC by Yahoo!.      

Agnez berkata, “saya tidak punya darah Indonesia sama sekali.” Penegasan lewat dua kata “sama sekali” bisa menimbulkan ragam interpretasi.       

“Saya hanya lahir di Indonesia,” lanjut Agnez. Kalimat ini dikhawatirkan menimbulkan stigma kepada rekan-rekan Agnes yang telah berjuang demi tumpah darah Indonesia. Mereka yang sudah selesai dengan Keindonesiaannya.       

Baca Juga : Bawaslu : 14 ASN Diduga Langgar Netralitas Di Pilkada Kabupaten Bandung

“Tapi saya merasa diterima,” tegas Agnez. Sayangnya, kalimat ini tertutup oleh pernyataan sebelumnya.       

Bisa jadi, Agnez benar secara genetik, biologis, tapi kurang pas secara sosial-politik.       

Dalam konteks tertentu, tidak semua hal bisa diungkapkan secara lugas. Ada soal kepantasan dan tenggang-rasa. Ada dampak yang terkadang tak bisa dikontrol.       

Seperti mengkritik masakan istri. Kalau kita langsung mengatakan “masakannya enggak enak,” pasti dia tersinggung. Beda misalnya dengan kalimat “kalau ditambahin cabe atau bumbu sedikit lagi, pasti lebih enak”.       

Baca Juga : Jalur Sepeda Di Bandung, Baiknya Contek Negara China

Soal rasa dan selera memang repot. Kasus Agnez, mo kemana? Dibiarkan? Dituntaskan? Bukan kasus Agnesnya, tapi soal keindonesiaan kita. Mestinya ini mengingatkan kita untuk serius menuntaskan masalah ini. Termasuk residu pilkada dan pilpres.       

Karena, perbedaan menyikapi kasus Agnez, ada yang menyeretnya sampai ke urusan “cebong dan kampret”. Duh, larinya masih ke situ-situ juga.(*)