Hati-hati Amendemen

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Amendemen UUD 45 bisa liar dan melebar kemana-mana. Bahkan ada yang menyebut-nyebut bentuk negara federasi atau serikat. Pemerintah dan DPR serta MPR perlu berhati-hati. Jangan sampai kebablasan. Karena, semua kemungkinan bisa terjadi. Tidak ada yang bisa menjamin. Lihat misalnya kasus revisi UU KPK beberapa waktu lalu.

Walau didemo besar-besaran, pemerintah dan DPR tetap mengubah UU KPK. Demo mahasiswa seperti tak ada artinya. Sekarang, untuk amendemen UUD tahapnya masih mengukur ombak. Test the water.

Ada yang melontarkan usulan. Lalu dilihat seberapa besar penolakan atau penerimaan rakyat. Penolakan dan penerimaan bisa lewat demo. Atau suara-suara di media sosial. Itu semua bisa diatur. Atau, bisa juga dengan menyebar spanduk dimana-mana.

Berita Terkait : Jakarta Kampung

Sekarang, spanduk masa jabatan presiden menjadi tiga periode sudah mulai muncul. Lalu, bisa saja berikutnya diikuti demo atau aksi masa. Yang menolak juga demikian. Bisa lewat berbagai macam cara. Lalu muncul diskusi dan dengar pendapat.

Berdebat sampai berbusa-busa di forum-forum diskusi atau di TV. Tapi, palu tetap dipegang oleh para wakil rakyat. Juga pemerintah. Seperti revisi UU KPK beberapa waktu lalu. Rakyat boleh demo, tapi keputusan akhir tetap di tangan wakil yang terhormat. Juga pemerintah.

Kalau keduanya sudah bersatu, rakyat mau apa? Kalau tidak diawasi dan dipagari sedari awal, tidak ada yang bisa menjamin amendemen UUD hanya akan membahas GBHN. Bisa tak terkontrol.

Berita Terkait : Uang Kopi Akan Hilang?

Apalagi kalau para politisi sudah terjerat kepentingan jangka pendek, kepentingan pribadi atau kelompok, semua bisa dibolak-balik. Selalu ada alasan untuk pembenar. Dukungan juga bisa diatur. Ujungnya selalu ditutup dengan kalimat “sesuai kehendak rakyat”. Atau, “ini demi bangsa dan negara”. Cakep. Beres.

Bisa juga karena ada yang ingin cari muka sehingga berusaha menyenangkan seseorang. Atau, ada yang ingin mencari posisi dan kursi, sehingga sikapnya bisa di-setting. Sesuai kepentingan. Itu gampang.

Seperti membolak-balik telapak tangan. Persoalan rakyat mau demo berjilid-jilid, atau mau protes, jungkir balik, itu urusan nanti. Paling hebohnya sebulan dua bulan, setelah itu capek sendiri. Jalan semuanya berjalan normal. Karena itu, hati-hati.

Berita Terkait : Hidup Sederhana dan Keteladanan

Keputusan para pimpinan atau elite politik sekarang akan menentukan arah bangsa dan negara ke depan. Negara ini hidup tidak untuk lima atau sepuluh tahun. Tapi jauh ke depan. Salah mengambil keputusan akan menyebabkan bangsa ini melangkah mundur. Bahkan bisa jauh ke belakang. ***