Copot ! Pejabat Doyan Impor

ISWARA DARMAYANA
ISWARA DARMAYANA

RMco.id  Rakyat Merdeka - Rontoknya ekonomi global, yang ditandai dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju harus diwaspadai. Kenyataan selama ini, kalau negara maju sakit, dalam waktu singkat menular ke negara-negara berkembang dengan pendapatan per kapita di bawah 5.000 dolar AS.

Apalagi negara-negara yang fundamental ekonominya lemah, bia sanya langsung ambruk. Negara-negara yang gemar impor, terutama impor pangan dan energi, sehingga defisit transaksi berjalannya bengkak, sakitnya lebih parah lagi. Bahkan, tidak sedikit yang kolaps. Kalau sudah kolaps, sulit bangkit lagi.

Menghadapi situasi yang diramalkan semakin suram pada tahun 2020-2021, kita berharap kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin membatasi kegiatan impor. Terutama impor pangan dan energi.

Berita Terkait : Gubernur Anti Korupsi

Begitu pula, untuk produk industri. Kalau tidak benar-benar mendesak, tak perlu impor. Ayo stop kebiasaan impor. Ayo ubah kegemaran impor, jadi tekad memacu ekspor.

Contohnya, ke depan jangan lagi impor pacul. Kita justru mesti jadi negara pengekspor alat dan mesin pertanian. Kita genjot ekspor traktor tangan misalnya.

Sudah saatnya pula, Indonesia jadi negara pengekspor beras. Bahkan, juga jadi negara pengekspor pupuk serta produk industri kehutanan dengan nilai tambah yang tinggi.

Berita Terkait : Ayo Potong Calo Investasi

Ini semua bisa terwujud, dengan kerja keras seluruh anggota kabinet bersama-sama dunia usaha, terutama BUMN. Sudah saatnya Presiden mencopot pejabat yang doyan impor. Pejabat yang doyan impor umum nya adalah orang-orang yang malas berpikir.

Di kala ekonomi global suram, mestinya seluruh anggota kabinet dan pejabat eselon satu berpikir keras bagaimana negara ini bisa memperoleh devisa dalam jumlah besar dari kegiatan ekspor.

Mereka juga mesti berpikir keras bagaimana caranya menarik turis asing supaya mau datang ke sini. Kemudian membeli produkproduk lokal hasil industri kreatif.

Berita Terkait : Jangan Ganggu Dunia Bisnis

Upaya memacu ekspor sudah saatnya jadi gerakan dengan kampanye yang masif. Gerakan ini mesti paralel dengan gerakan membatasi impor. Jangan buang-buang waktu.

Ayo bersama-sama genjot ekspor. Kalau ada yang menghambat, tindak tegas pejabatnya. Kalau masih ada pejabat yang doyan impor, copot saja. Jangan ragu.***