Setelah Garuda Ada Efek Jera?

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah Garuda, BUMN mana lagi yang akan “dibersihkan” Menteri BUMN Erick Thohir? Kemungkinan cukup banyak. Melihat diksi yang digunakan Erick, misalnya, “kalau kotor, kami bongkar,” tampaknya banyak yang akan kena sisir.

Kalau misalnya sekali sebulan ada BUMN yang “dibersihkan”, wajar kalau banyak petinggi BUMN yang ketar-ketir.

Langkah ini bagus. Layak diapresiasi. Tapi butuh konsistensi dan kesinambungan. Karena kita tahu, ada juga pejabat atau menteri yang tancap gas di awal, lalu kehabisan bensin di tengah jalan.

Dari 142 BUMN yang dipegangnya, Erick jangan pandang bulu. Perlu ketegasan yang sama untuk semua BUMN.

Berita Terkait : Warga Korsel Dilarang Ke Indonesia, Garuda Tetap Terbang Ke Seoul

Jangan sekadar mengharapkan akan ada efek jera setelah Dirut Garuda dipecat. Jangan pernah berharap, setelah kasus Garuda lantas semua BUMN akan patuh dan profesional. Mungkin akan ada yang tiarap di awal-awal, tapi ketika lengah, kembali lagi. Bangsa ini gampang lupa.

KPK saja yang demikian “galaknya” belum bisa menimbulkan efek jera, apalagi kalau sekadar imbauan atau langkah biasa-biasa saja. Kalau sekadar “panas-panas tahi ayam”, percuma. Karena itu, butuh totalitas dan konsistensi.

Semua BUMN perlu disisir secara konsisten, adil sistematis, menyeluruh dan total. Bukan tambal sulam. Jangan ada anak emas atau anak tiri. Jangan tegas di sana, lembut di sini.

Yang menarik, dari ratusan BUMN, ternyata ada juga yang “tak terpantau”. Pekan lalu misalnya, bahkan Menteri Keuangan pun bingung karena baru tahu ada BUMN bernama PT PANN. BUMN ini merupakan satu dari tujuh perusahaan negara yang menerima penyertaan modal negara (PMN) pada 2020 dengan total Rp 3,76 triliun.

Baca Juga : Mau Promosikan Kopi Jabar di Stockholm

Menteri saja tidak tahu apalagi rakyat. Namanya saja tidak tahu apalagi aktivitas dan segala macam transaksinya.

Belum lagi ada kasus Jiwasraya yang melibatkan dana triliunan. Kasus ini sudah menjadi konsumsi para ekspatriat karena beberapa nasabahnya adalah bos perusahaan asing. Dana mereka masih “nyangkut”. Bisakah Erick membereskannya?

Belum lagi kasus-kasus yang melilit BUMN lainnya. Ada yang terus merugi, terancam tak beroperasi, dan sebagainya. Banyak masalah di tubuh 142 BUMN tersebut.

Ini tantangan menarik buat Erick. Namun, yang perlu diperhatikan, pembenahan ini jangan sekadar “ganti pemain”. Bukan sekadar make-up atau pakai lipstik supaya terlihat cantik, tapi gampang luntur. Bukan itu. Tapi total.

Baca Juga : Arteta Positif Corona, Tiga Pemain Leicester Diisolasi

Kalau menyingkirkan yang lama, lalu memasukkan yang baru, tapi “penyakitnya” masih sama, tak diobati sampai tuntas, sama saja menjerumuskan BUMN ke jurang yang lebih dalam. Bahkan bisa tambah parah.

Kita percaya Erick bisa melakukan pembenahan ini secara sistematis, transparan, adil, menyeluruh, total dan konsisten. Karena BUMN mengelola uang rakyat, untuk rakyat, bukan “ATM” atau “sapi perah” oknum pejabat.(*)