SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sungguh ngeri melihat beberapa kelompok yang “adu sakti” di media sosial saat ini. Ada yang menggunakan senjata tajam, ada yang secara verbal saling tantang.

Melontarkan kata-kata keras dan nyerempet bahaya. Ada yang saling hujat para pemimpin ormas keagamaan bahkan pimpinan agama. Ini harus segera dihentikan. Jangan sampai ini terus mengeras, apalagi kalau ada yang ngipas-ngipas, manas-manasi. Bahaya.

Hubungan antar sesama anak bangsa akan terganggu. Yang dikhawatirkan, kalau ini terus berlanjut sampai Pilpres 2024. Apalagi kalau Pilpresnya hanya diikuti dua pasang calon.

Apalagi kalau ada yang meman faatkan “mengerasnya” hubu ngan antara dua kubu, sangat berbahaya. Akan lama “suhu panas” ini akan dirasakan bangsa ini. Polusi sosial politisnya bisa berdampak panjang dan lama.

Berita Terkait : Berharap Ke KPK Edisi Revisi

Berdasarkan pengalaman Pilpres 2019, kalau hanya ada dua pasang (lagi), dua kubu pasti akan terbelah sangat keras dan tajam. Dampaknya bisa kemana-mana.

Kerasnya pertarungan cebong dan kampret pada Pilpres 2019, semestinya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Persaingan Pilpres 2019 yang residunya masih berserakan sampai sekarang, adalah harga mahal yang harus dibayar bangsa ini.

Semestinya para elite politik merasa malu, kenapa ini bisa terjadi. Mestinya para elite politik punya kal kula si sosial-politik atas “kebijakan” pilpres yang hanya diikuti dua pasangan. Mestinya ada tanggung jawab sosial politik.

Selain mengobati akar masalahnya, juga perlu dicari obat instan supaya tidak terjadi iritasi, mem bengkak dan melebar.

Berita Terkait : Hati-hati Amendemen

Selain itu, potensi munculnya pertentangan antara agama dan negara perlu segera dihentikan. Cari jalan keluar yang konstruktif. Bukan jalan keluar yang justru menambah panas situasi dan kondisi.

Konflik horizontal “internal agama” juga tak boleh dibiarkan terjadi. Negara perlu aktif mencari jalan keluar dan menghentikannya. Para elite politik juga perlu berpikir jernih. Duduk bersama.

Berbicara dalam kesejukan. Mendinginkan para pendukung. Jangan sampai, sesama anak bangsa, teradu-domba. Sadar atau tidak sadar. Kalau terjadi persoalan vertikal maupun horizontal, sungguh mahal harga yang harus dibayar.

Menyembuhkan lukanya sangat lama. Semoga itu tidak terjadi. Bangsa ini harus melangkah maju, bukan lagi disibukkan konflik horizontal antara sesama anak bangsa.

Berita Terkait : Jakarta Kampung

Bangsa lain sudah berlomba-lomba memajukan ekonomi dan menciptakan teknologi terbaru, masa’ kita masih sibuk berlomba untuk saling hujat. ***