SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebenarnya, nama “Tauberes” karakternya sangat kuat. Unik. Menarik. Mungkin sama dengan Bukalapak, Kaskus atau Gojek. Atau, mirip-mirip dengan “nama perusahaan” yang disematkan kepada orang yang bisa menyediakan barang apa saja yang kita cari: Palugada. Apa yang lu cari, gua ada. Dari panci penggorengan sampai mobil mewah atau tanah ratusan hektar, semua bisa disediakan.

Nama perusahaan start-up sekarang memang unik-unik. Tidak formal. Terdengar seperti semau gue. Bebas merdeka.

Karakter itu bisa juga kita lihat dari penampilan Mendikbud Nadiem Makarim. Dia sangat kasual. Seperti saat menghadiri pelantikan Rektor Universitas Indonesia (UI), Rabu (4/12) lalu, Nadiem tampil nyantai di tengah tamu lain yang mengenakan jas lengkap.

Saat itu Nadiem mengenakan kemeja tenun yang lengannya digulung, celana jeans dan sepatu loafers berbahan suede. Tanpa kaos kaki. Dalam acara kunjungan, Nadiem memang seperti itu. Kadang dia menyandang ransel. Seperti anak kuliahan.

Baca Juga : Kemenperin: BMBIfest Bantu Promosikan Produk Mesin Buatan IKM

Tentu saja ada pro kontra. Mantan Ketua DPR Marzuki Alie termasuk yang mengkritik penampilan Nadiem. Ada juga yang membandingkan dengan Bill Gates atau Mark Zuckerberg yang tetap mengenakan pakaian resmi di acara formal. Seperti saat acara Dengar Pendapat dengan senat.

Pembela Nadiem juga ada. Mereka bisa menerima dan menilainya wajar. “Karena selama ini kita terlalu dikekang dan menjalankan tradisi yang protokoler,” tulis salah seorang pengguna twitter.

Keinginan untuk melepaskan diri dari kungkungan dan tidak terkekang itu tergambar dari program Kemendikbud yang meluncurkan “Merdeka Belajar” yang antara lain mengganti Ujian Nasional (UN).

Kita tidak tahu, beberapa tahun ke depan, bagaimana konsep generasi millenial atau yang lebih muda lagi, Gen Z atau Gen Alpha mengenai pakaian. Bisa saja jas dianggap sebagai pakaian aneh. Atau masih menghargainya sebagai pakaian formal. Di tengah dunia yang sangat cepat berubah ini, semuanya serba mungkin.

Baca Juga : Beda Dengan Rupiah, IHSG Dibuka Merah

Nah, kembali ke PT Garuda Tauberes Indonesia. Namanya sih cocok untuk generasi millennial. Itu dari segi nama. Bukan substansi dan kinerja perusahaan yang baru beberapa bulan berdiri ini.

Tauberes sangat aneh kalau disejajarkan dengan nama anak usaha Garuda yang terdengar formal dan gagah. Misalnya, Aerojasa Perkasa, Mandira Erajasa Wahana atau Aero Systems Indonesia.

Bagaimana dengan Tauberes? Ada yang menilai itu terobosan baru, semacam ojol pesawat. Anak-anak muda yang bekerja di dalamnya, juga millennial yang paham dunia IT.

Kita juga tidak tahu, apakah perusahaan itu tidak layak secara bisnis, atau manajemennya tidak sesuai dengan semangat BUMN, atau ada masalah yang tidak transparan. Kita tidak tahu.

Baca Juga : Mantap! SKK Migas Dan Medco Temukan Cadangan Minyak Di Natuna

Yang pasti, kita mendukung langkah Erick untuk membenahi BUMN. Kalau usahanya bisa diselamatkan, selamatkan. Atau, ada yang kotor, bersihkan. Benahi sistemnya. Kalau ada persoalan hukum, selesaikan.

Pokoknya, kita nantinya tauberes saja. Kita percaya Erick dan pemerintah. Jangan sampai ada kasus “TauSamaTau” di antara oknum pejabat lalu akhirnya mengatakan: TauAhGelap! Kalau itu yang terjadi, Tautau AndaDigaplokRakyat.

Semoga semuanya beres.(*)