Dari Garuda Ke Jiwasraya

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Habis Garuda terbitlah Jiwasraya. Sebenarnya sudah seminggu lalu beberapa pihak meminta supaya perhatian ke Jiwasraya tidak dikalahkan oleh Garuda, karena potensi kerugian negara di Jiwasraya sangat besar.

Jauh di atas kasus dugaan penyelundupan Harley Davidson atau sepeda Brompton-nya Garuda. Tapi karena ada unsur “infotainment-nya”, Garuda jadi lebih menarik. Unsur dramatiknya lengkap: ada tokoh antagonis, protagonis, juga dibumbui cewek-cewek cantik seperti film James Bond sehingga Garuda mendapat perhatian lebih.

Di Jiwasraya tak ada unsur-unsur itu. Tapi, potensi kerugian negaranya sungguh luar biasa. Jauh lebih besar dari mega skandal yang pernah ada. Bahkan melibatkan banyak warga negara asing yang menyimpan uang nya di Jiwasraya.

Berita Terkait : Curhatan Mahfud

Ini menjadi pelajaran bagi bangsa ini bahwa yang menarik belum tentu jauh lebih penting dan besar. Atau sebaliknya, yang tampak tidak menarik, bisa jadi jauh lebih besar.

Menurut Jaksa Agung ST Burhanuddin, dalam kasus asuransi Jiwasraya, potensi kerugiannya mencapai Rp 13,7 triliun. Itu pun baru perkiraan awal. Sampai Agustus. Empat bulan lalu. Realnya, diduga lebih dari itu.

Kasus ini mencuat setelah terjadi gagal bayar polis produk asuransi milik nasabah PT Asuransi Jiwasraya senilai Rp 12,4 triliun. Karena banyak yang dirugikan, termasuk 470 warga negara Korsel di Indonesia, kasus ini terus berkembang, mencuat dan membesar.

Berita Terkait : Cuci Uang, Cuci Baju

Karena banyak warganya yang dirugikan, Dubes Korsel bahkan sudah mengadu ke DPR. Dubes juga menyinggung dampaknya terhadap investasi di Indonesia. Karenanya, kasus ini perlu dituntaskan secara adil, profesional dan transparan sehingga tidak merusak citra Indonesia di mata para investor.

Kasus ini sudah masuk Kejaksaan Agung. Beberapa nama sudah disebut-sebut. Bahkan nama-nama yang agak spekulatif, mulai muncul, terutama di media-media sosial.

Belum lagi bumbu politik yang menyertainya, seperti potensi “benturan” antara Jokowi dan SBY setelah Jokowi menyebut bahwa kasusnya sudah lama. Sudah 10 tahun. Artinya, di era SBY.

Berita Terkait : Berharap Ke KPK Edisi Revisi

Abaikan dulu bumbu-bumbu politiknya, fokus ke kasusnya. DPR, Kementerian BUMN, Kemenkeu, Otoritas Jasa Keuangan, Kejaksaan Agung, KPK, Polri, imigrasi sudah bergerak. Timnya lengkap.

Kita berharap pemerintah bisa segera menyelesaikan kasus ini secara tuntas. Bukan hanya Garuda atau Jiwasraya, tapi semuanya. Menteri BUMN sudah memulai tugasnya dengan sangat apik. Kita tunggu sejauh mana staminanya. Jangan panas-panas tai ayam. Juga tidak berakhir anti klimaks. Atau kehabisan nafas di tengah pertandingan.

Walaupun Jiwasraya tidak (atau belum) dramatik seperti kasus Garuda, kasus ini sangat kolosal. Bahkan bisa memecahkan rekor. Bagaimana ending nya? Kita simak saja sembari menunggu ujung ceritanya. ***