Tanpa Teks, Tanpa Bocoran

BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Debat pertama dinilai garing. Tidak natural. Tidak bisa merefleksikan sama sekali: pertama, penguasaan para calon pemimpin kita terha￾dap masalah-masalah kenegaraan dan kebangsaan; kedua, kecakapan dalam memilih strategi mengatasi masalah-masalah tersebut ke depan. Semua kaku, terpaku pada contekan masing-masing.

Menguat harapan, sesi debat berikutnya dibuat lebih alamiyah. Masing-masing kandidat menjawab apa adanya pertanyaan yang diajukan. Jujur saja: kalau tau jawab sepanjang pengetahuannya; bila tidak, jawab tidak tau. Kalau mengerti jawab, tidak mengerti jangan dijawab. Jangan pura-pura mengerti dan menjawab sekenanya. Bisa menyesatkan.

Berita Terkait : Negara Pengutang

Silahkan gunakan gaya berdebat yang keren dan meyakinkan. Silahkan saling gugurkan pendapat, dengan data-data akurat. Tidak usah sungkan. Sepanjang argumen yang dibangun dasar faktanya akurat, silahkan debatkan dengan sengit. Tapi kalau cu­ma data fiktif, make up, dan cuma gimmick, please hindari.

Latihan menyampaikan gagasan tanpa emosi. Utarakan pendapat dengan jelas, tegas, dan bernas. Karena forum debat juga bisa mencerdaskan. Bisa jadi ajang edukasi publik tentang masalah serta solusi yang dihadapi bangsa ini. Bisa jadi forum ilmiyah, kuliah umum, bagi para pelajar dan mahasiswa.

Berita Terkait : Di Antara Janji Dan Bukti

Tuntutan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk tidak membocorkan ‘kisi-kisi’ pertanyaan yang diajukan dalam sesi debat sesungguhnya merupakan bagian dari ikhtiar menjaga spontanitas, keluasan, dan pengetahuan kandidat terhadap masalah dan solusinya. Kandidat menjawab pertanyaan tanpa berpegang alurnya kepada teks yang telah dipersiapkan tim.

Jawaban di luar atau tanpa teks bisa jadi alat ukur penguasaan persoalan paslon. Tidak usah takut salah jawaban, tidak usah cemas keliru pendapat. Sampaikan apa adanya. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini penting gentle dalam menanggapi pertanyaan yang diajukan. Tidak usah ada pura-pura tahu, pura-pura mengerti, ini bisa tambah blunder dan bahan olok-olok.

Berita Terkait : Perang Politik & Kedewasaan

Para pendukung masih-masih paslon, utamanya yang hadir saat sesi debat, wajib menjaga etika. Tidak boleh melontarkan teriakan yang mengejek. Jaga kehormatan diri dan siapapun orang yang telah dipilih bangsa ini untuk tampil jadi calon pemimpin.

Para paslon ini adalah yang terpilih di antara 250 juta penduduk ini. Tidak mudah perjalanan mereka. So hormati, hargai, dan ucap terimakasih. Jaya Indonesiaku