“Artidjo Cs”

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dari lima Dewan Pengawas KPK, Artidjo Alkostar mendapat nilai terbaik. Kisah hidup, reputasi dan integritasnya nyaris sama dengan Kapolri (1968-1971) Jenderal Hoegeng Imam Santoso di kepolisian.

Empat Dewas KPK lainnya, tampaknya masih dibawah Artidjo. Secara kualitatif tidak bisa diukur, tapi paling tidak, begitulah perasaan publik. Juga dari pemberitaan media atau dari mereka yang mengenal dekat mantan hakim agung ini.

Citranya sebagai algojo para koruptor mengangkat citra Dewas KPK. Kita yakin dan percaya, KPK akan lebih kuat dan lebih baik di tangan Artidjo cs. Kita sebut saja, “Artidjo Cs”, karena namanya dinilai sebagai maskot.

Melihat komposisi Dewas KPK, juga lima pimpinan KPK yang beragam, KPK akan lebih kuat, seperti yang dijanjikan. Pencegahan dan Operasi Tangkap Tangan akan semakin gencar.

Berita Terkait : Setelah Hampir Empat Tahun, KPK Akhirnya Garap RJ Lino

Seiring sejalan. Berimbang. Pemberantasan korupsi akan semakin kuat. Korupsi menurun. Indonesia akan memasuki era baru yang lebih baik dalam pemberantasan korupsi.

Para petinggi partai, pejabat dan para pimpinan lembaga negara serta mereka yang punya niat korup akan takut melihat komposisi ini. Para koruptor juga tidak akan berani melobi Istana supaya menekan Dewas.

Mereka yang disengaja atau tanpa disengaja masuk radar penyadapan KPK, juga tak berani meminta bantuan Istana. Presiden juga pasti menolak dan pasti tidak mau mengintervensi KPK, walaupun ada rekan, orang dekat, atau siapa pun yang meminta bantuan untuk menekan Dewas atau KPK.

Dewas yang bisa disebut dewa nya dewa, walau memiliki kewenangan besar, juga tidak akan menya lah gu na kan wewenangnya. Misalnya, seperti istilah Mahfud MD, menyalahkan yang benar atau membenarkan yang salah. Karena mereka bukan industri hukum.

Berita Terkait : Sandiwara Apa Semua Ini?

Dewas dan pimpinan KPK, seperti yang sering disampaikan banyak orang, adalah orangorang yang su dah selesai dengan dirinya sendiri. Atau, seperti istilah Soeharto: madeg pan dito. Orang bijaksana yang sudah selesai dengan urusan duniawi, tingal di sebuah pertapaan, memberi nasihat kebijakan dan kebajikan.

Dengan komposisi “10 pimpinan KPK”, pendekar anti korupsi, kita berharap tidak ada lagi pejabat negara yang ditangkap. Bukan karena mereka berhasil melobi ke sana kemari, tapi karena tumbuh kesadaran sebagai dam pak dari keberhasilan KPK melakukan pencegahan.

Dengan kewenangannya menerbitkan SP3 untuk menghentikan per kara, kita juga yakin KPK tidak akan mengobral SP3. Apalagi SP3 untuk kasuskasus besar atau yang melibatkan namanama besar.

Dengan demikian KPK akan lebih baik. Lebih kuat melawan korupsi di banding KPKKPK sebelumnya. Sebagai “edisi revisi”, seperti sebuah buku, pasti lebih baik dibanding sebelum direvisi.

Berita Terkait : Akhir Kejayaan KPK?

Tidak ada lagi salah ketik, paragraf yang hilang atau tum pang tindih. Cetakannya lebih bagus. Warnanya lebih cerah dan menarik, tidak buram. Membacanya enak. Tak ada yang mengganjal. Begitulah harapan kita kepada Artidjo Cs. Namanya juga harapan, bisa apa saja.