SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kalau kita googling beberapa menteri Kabinet Kerja II, beberapa nama seperti tak ada “bunyinya”. Apakah mereka tidak suka publikasi atau memang tidak banyak melakukan gebrakan?

Kabinet dilantik 23 Oktober 2019. Sudah dua bulan. Mestinya sudah cukup banyak yang dilakukan walaupun “program 100 hari pertama” tak lagi popular.

Di antara anggota kabinet, yang relatif “seksi”, ada tiga menteri: Menteri Agama, Menteri BUMN dan Mendikbud. Mereka langsung gas di awal-awal. Semoga saja tidak kehabisan bensin di tengah jalan.

Berita Terkait : Politik 2020 dan 4 Peristiwa

Karena ada yang tidak “bunyi” di medsos ada yang berkomentar satir, “memangnya dia jadi menteri? Menteri apa ya?” sambil menyebut salah satu nama menteri. Presiden Jokowi sudah berkali-kali mengingatkan para menterinya untuk “berlari kencang” di tengah ekonomi global yang melambat. Misalnya, soal ekspor, impor, investasi, neraca perdagangan dan sebagainya.

Teguran itu bahkan sudah disampaikan di akhir-akhir Kabinet Kerja I di sidang kabinet, Istana Bogor, Senin (8/7). Saat itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan serta Menteri Badan Usaha Milik Ne gara (BUMN) Rini Soemarno kena tegur.

Menteri Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dan Menteri Agraria, Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil juga ditegur.

Berita Terkait : Curhatan Mahfud

Saat pengumuman nama menteri Kabinet Kerja II, 23 Oktober lalu, nama Jonan dan Rini tidak ada lagi di daftar. Siti Nurbaya dan Sofyan aman.

Senin lalu, (23/12), seusai peresmian implementasi program penggunaan B30 di Jakarta, Presiden Jokowi kembali bertanya, “Apakah kita mau keluar dari rezim impor atau tidak?”

Pertanyaan ini mestinya dijawab dan diimplementasikan segera oleh para menteri. Kalau tidak, bisa saja reshuffle akan dilakukan tahun depan, 2020.

Berita Terkait : Dari Garuda Ke Jiwasraya

Pada Kabinet Kerja I, Presiden Jokowi-JK melakukan reshuffle saat pemerintahan berjalan 10 bulan. Empat posisi menteri dan jabatan lain di kabinet mengalami perubahan. Saat itu, kondisi perekonomian dunia masih lebih baik.

Sekarang, di tengah ekonomi global dunia yang melambat, apakah pintu reshuffle akan dibuka lebih cepat? Sangat mungkin, ada kode keras di awal tahun. ***