SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kalah telak dari Vietnam. Bahkan dari Kamboja, juga kalah. Ini bukan soal sepak bola, tapi investasi, Penanaman Modal Asing.     

Presiden pernah marah soal ini. September lalu, Presiden mengundang perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. Saat itu, Presiden mendengar kabar sedih: perusahaan asing, terutama dari China tak mau datang ke Indonesia. Ibaratnya, melirik pun tidak.

Presiden menyebut, dari 33 perusahaan yang keluar dari Tiongkok, tak satu pun yang ke Indonesia. Sebanyak 23 perusahaan memilih Vietnam, 10 lainnya masuk ke Malaysia, Thailand dan Kamboja.

Sangat menyesakkan. Dulu, Vietnam dan Kamboja belajar dari Indonesia. Sekarang, Indonesia tertinggal. Jauh. Dengan Vietnam misalnya, kalau di sepak bola skornya 23-0. Kalah telak.     

Baca Juga : Terawan Beri Insentif Rp 82 Juta ke Dokter PPDS yang Bantu Tangani Covid-19

Wajar kalau Presiden marah. Kita juga bertanya, apakah tidak ada info atau analisis dan prediksi akurat dari para menteri sehingga Presiden Jokowi harus mendengar dari Bank Dunia?     

Sekarang kita menatap 2020. Semua lembaga internasional menyebutnya sebagai tahun yang berat. Bahkan ada yang memprediksi bakal terjadi resesi ekonomi. Krisis. Pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Indonesia bakal kena imbasnya. Terutama rakyat.     

Bagi rakyat kecil, hitung-hitungan ekonomi makro dengan istilah-istilah mutakhir, tentu sangat sulit dipahami. Rakyat hanya merasakan. Langsung.

Misalnya, pada 2020, harga atau tarif beberapa komponen berpotensi naik. Diantaranya: cukai dan harga rokok, tarif listrik, parkir, harga plastik, iuran BPJS hingga kenaikan tarif ojek online.     

Baca Juga : Jakarta PSBB Lagi, BP Jamsostek Maksimalin Lapak Asik

Ini beban. Kita tidak tahu, mana yang lebih berat bebannya, rakyat atau para menteri. Para pemimpin. Bagaimana pun beratnya, rakyat tetap percaya dan berharap kepada para pemimpin.     

Kita berharap, 2020 akan ada perbaikan. Ada gebrakan. Optimistis. Omnibus law yang digagas pemerintah berjalan baik. Izin dan birokrasi tak lagi menjadi momok menakutkan bagi para investor. Pemda tak cari untung dari perizinan. Dengan demikian, investor berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Tanam modal. Rakyat dapat pekerjaan. Ekonomi menggeliat.     

Impor juga berkurang jauh. Tak ada lagi kabar mengenai impor cangkul, garam, beras atau migas dan sebagainya yang “aneh-aneh”. Usaha rakyat, UMKM, juga lancar. Sehat.     

Selain itu, utang pemerintah maupun swasta dilakukan dengan sangat selektif. Hati-hati. Tidak besar pasak daripada tiang. BUMN yang sakit kembali sehat. Keuntungannya banyak. Bukan oknumnya, tapi BUMN-nya yang untung.     

Baca Juga : Bangkitkan Roda Ekonomi, Tol Laut Bisa Jadi Solusi

Pada akhirnya, pemerintah senang, rakyat gembira. Anak bisa sekolah, perawatan kesehatan terjamin, dapur bisa ngebul. Bukan kepalanya yang ngebul, tapi dapurnya!     

Selamat datang 2020. Mungkin ada pelangi di sana. Warna-warni. Tetap indah.