Banjir dan Penyakitnya

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyakit” saling menyalahkan selalu mengiringi banjir. kemarin misalnya, seusai meninjau kondisi banjir, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menteri PUPR Basuki Hadimulyono, saling “berbalas pantun”.

Kata Basuki, telatnya normalisasi kali Ciliwung menjadi satu penyebab banjir. Pembebasan lahan di bantaran kali, yang menjadi tugas Pemprov DKI harus segera diselesaikan.

Anies yang berada di samping Basuki langsung menjawab. Kata Anies, apa pun yang dilakukan DKI, kalau tidak ada pengendalian air yang datang dari Bogor dan sekitarnya, hasilnya tidak akan optimal.

Di bawah, terutama di media sosial, sama saja. Banjir ya banjir, tapi perang jalan terus. Yang anti Anies menyalahkan Anies. Pendukung Anies, menyinggung Jokowi dan Ahok.

Berita Terkait : Jangan Wacana Terus, Lakukan!

Dokumen lama dibuka-buka lagi. Ini penyakit. Padahal yang dibutuhkan obat. Bukan saling menyalahkan. Mestinya, tuntutlah Anies bekerja keras, memenuhi janjinya mengatasi banjir.

Demikian pula Jokowi, dituntut untuk lebih koordinatif menangani banjir di Jabodetabek. Selesaikan segera. Dalam dua tiga hari sampai seminggu ke depan, ada target yang jelas.

Untuk jangka panjangnya, Pemprov DKI misalnya, perlu menyelesaikan pembebasan lahan di bantaran kali. Relokasi penghuninya.

Terkadang langkah ini tidak populis, tapi harus dilakukan segera. Lupakan dulu perdebatan soal istilah normalisasi atau naturalisasi. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan hanya berwacana.

Berita Terkait : Politik 2020 dan 4 Peristiwa

Pemda Bogor, perlu segera mengendalikan air dari wilayahnya. Minimalisir banjir kiriman. Bekasi juga berbenah. Bersihkan sungai. Jangan ada lagi pemandangan sungai yang dipenuhi sampah dan tertutup tanaman liar. Tegas dan ketat soal AMDAL. Hindari “permainan”.

Ketika semuanya berjalan, Kementerian PUPR kemudian melaksanakan pekerjaan teknisnya. Bangun bendungan dan sarana lainnya. Pemerintah pusat tinggal menghitung dan mengeluarkan anggaran.

Pemerintah juga perlu melakukan kampanye untuk merevolusi mental rakyat. Tertibkan bangunan liar di bantaran kali. Jangan ada lagi yang buang sampah sembarangan. Seperti yang kita lihat, mulai dari botol plastik sampai kasur bertebaran di sungai.

Bangsa ini sudah terlalu lama mempolitisir banjir. Setiap pilkada, banjir selalu dibawa-bawa. Program nya hebat-hebat. Tapi, semakin lama, banjir bertambah parah.

Berita Terkait : Reshuffle Lebih Cepat?

Yang perlu direvolusi mentalnya bukan hanya rakyat, tapi para pejabatnya. Paling tidak, untuk menghilangkan penyakit saling lempar tanggung jawab, saling menunggu dan saling menyalahkan. ***