Jangan Wacana Terus, Lakukan!

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ketika banjir belasan atau puluhan tahun lalu, selalu ada solusi dan ide macam-macam. Bangun ini bangun itu. tapi, sayangnya, ide atau program itu hilang bersama angin.

Begitu seterusnya, sampai banjir datang lagi. Reaktif lagi. Yang menyedihkan, banjir menjadi komoditas politik. Pejabat saling menyalahkan. Bahkan, para pendukung pilpres atau pilkada saling serang. Bertarung di media sosial.

Dulu, Jokowi yang diserang, lalu Ahok. Sekarang Anies Baswedan. Gantian saja. Yang menarik, pertikaian ini berlangsung sangat panas di Jakarta. Tidak di Jawa Barat atau Banten, yang banjirnya tak kalah parah. Apakah akan terus seperti ini? Tentu tidak.

Berita Terkait : Kabar-Kabar dari KPK

Kita butuh aksi bukan reaktif. Bukan kebijakan yang panas-panas tai ayam. Bukan sekadar tambal sulam. Bukan sekadar “omong doang”. Bukan hanya wacana. Bukan sekadar langkah “pemadam kebakaran”. Perlu langkah konkret yang jelas dan tegas.

Kalau pun ada pertemuan koordinasi antar kepala daerah di sekitar Jakarta untuk mengatasi banjir, mungkin itu masih kurang. Kalau ada bantuan dana kepada daerah tetangga DKI Jakarta, juga mungkin masih kurang.

Kalau masih ada pelanggaran AMDAL, pasti ada sesuatu yang salah. Kalau ada kebijakan atau program yang tidak jalan, tentu ada yang mampet.

Berita Terkait : Banjir dan Penyakitnya

Kita khawatir, jangan-jangan, bukan hanya sungainya yang perlu dinormalisasi atau dinaturalisasi, tapi hubungan antar pemerintah daerah. Juga hubungan antara pusat dan daerah. Termasuk hubungan personal di antara para pemimpinnya.

Jangan-jangaan ada yang mampet. Ada sampah-sampah yang menghambat. Di Indonesia, terkadang, hubungan personal di antara para pemimpin bisa mempengaruhi kebijakan.

Dampaknya bisa ke rakyat. Ini sangat menyedihkan. Sekarang, apa yang bisa dilakukan pemerintah daerah, lakukan. Apa yang bisa dilakukan pusat, lakukan. Apa yang bisa dikoordinasikan, koordinasikan. Kerja sama. Segera.

Berita Terkait : Politik 2020 dan 4 Peristiwa

Jangan ada lagi saling menyalahkan atau saling menunggu. Malu sama rakyat kalau masih terus berdebat dan masih berwacana terus. Malu sama rakyat kalau terus ada bantahan “tidak ada silang pendapat di antara kami,” sementara rakyat me lihat dan merasakannya.

Untuk mengatasi persoalan banjir, ayo lakukan sesuatu. Segera. Jangan hanya wacana! Karena banjir itu konkret. Korban harta dan korban jiwa itu konkret. Bukan wacana! ***