7 Arena Jiwasraya Berujung Rangkulan?

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - SBY menyerang dan bertahan dengan cara halus dan taktis. Kadang mukul. Kadang merangkul. Ketika bertahan, masih bisa menyerang. Seperti bertinju, pakai taktik “hit and clinch”. Menyerang dan merangkul.

Kira-kira seperti itulah gambaran sepintas ketika membaca tulisan panjang SBY di akun facebooknya, Senin sore, kemarin.

Butuh waktu sekitar setengah jam untuk membaca dan menyimak tulisan berjudul "Penyelesaian Kasus Jiwasraya Akan Selamatkan Negara dari Krisis yang Lebih Besar," tersebut.

Walau mengaku tidak terusik, tergambar bahwa SBY sesungguhnya terusik dengan isu-isu yang menyerang diri dan pemerintahannya dalam kasus yang diduga merugikan negara 13,7 triliun rupiah tersebut.

Berita Terkait : Tontonan Menarik dan Main Tangan

Karena itu, SBY masih berharap, kasus Jiwasraya diselesaikan lewat Pantia Khusus (Pansus) di DPR. Bukan Panja. Karena Pansus bisa menjangkau dan menggali lebih dalam, lebih luas dibanding Panja.

SBY juga berharap DPR  bisa menggunakan hak angket. Tidak perlu khawatir. Karena, menurut SBY, “di era saya dulu, DPR 4 kali menggunakan hak angketnya”.

SBY juga menyitir opini dan persepsi masyarakat bahwa pemerintah dituduh ingin menutupi dan melokalisasi kasus besar Jiwasraya.

Benarkah opini ini? SBY menjawab dengan dua kemungkinan. Pertama, bisa saja itu halusinasi. Atau kedua, memang masyarakat merasa memiliki informasi yang sahih. Jawabannya bersayap.

Berita Terkait : Pesan Penting: Hati-hati

Dari tulisan ini, pembaca bisa mengukur bagaimana perasaan SBY sekarang. Persepsi dan penafsirannya tentu berbeda-beda. Pro kontra pasti ada.

Dari tulisan yang ada nuansa curhatnya itu, juga tergambar bahwa hubungan SBY dengan pemerintah sekarang memang masih belum mulus-mulus amat. SBY berusaha memilah sikapnya terhadap Jokowi dengan orang-orang di sekitarnya. SBY tampak ingin tetap menjaga hubungan baik dengan Jokowi.

SBY juga mengajukan beberapa “pertanyaan kunci yang harus dijawab dan diselidiki” dalam kasus Jiwasraya.

Salah satunya, yang menarik,  di poin keempat. Menurut SBY, apakah memang ada uang yang mengalir dan digunakan untuk dana politik (pemilu), baik yang mengalir ke partai politik tertentu maupun tim kandidat presiden?

Berita Terkait : TVRI, Buaya, dan Bola

Walau disampaikan dalam bentuk pertanyaan dan terkesan halus, namun nuansa “menyerang” dan sentilannya masih terasa.

Yang menarik, SBY menyebut area penyelidikan kasus Jiwasraya sebagai “arena penyelidikan”. Jumlahnya ada tujuh arena.

Kita tahu, arena adalah gelanggang. Kalau dalam pertempuran disebut palagan.

Sebagai penonton, kita tunggu saja “pertandingannya”. Seru atau akan datar-datar saja. Atau, akan diakhiri rangkulan. Bisa rangkulan hangat, bersahabat, bisa juga rangkulan kencang. Kencang banget.(*)