Tontonan Menarik dan Main Tangan

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kalimat ini masih berlaku: rakyat butuh tuntunan, bukan tontonan. Sayangnya, para elite politik sekarang justru lebih banyak memproduksi tontonan. Bukan tuntunan.

Ada drama Jiwasraya, Asabri, Harun Masiku dengan cabang kasusnya yang menjalar kemana-mana. Ada pula kisah Raden Rangga, yang kerajaannya sudah runtuh dan sekarang berbaju tahanan.

Setelah ribut-ribut soal Natuna dengan China, sekarang datang lagi virus Corona yang mengguncang dunia. Juga Indonesia.

Dalam tataran lokal, ada bencana alam di beberapa daerah, pemanasan jelang Pilkada serentak, revitalisasi Monas yang melibatkan Anies Baswedan dan pemerintah pusat.

Berita Terkait : Figur 2024, Masih "Sersan"

Para elite sangat sibuk hari-hari ini. Ada yang menyerang partai lain, ada pula yang berjuang sekuat tenaga membela partainya. Mereka bertarung di tengah  kabar gedung sekolah yang roboh, tarif tol yang akan naik serta banjir di beberapa daerah.

Ada juga menteri yang memecat anak buahnya. Ada gubernur yang menyalahkan anak buahnya. Ada menteri yang tak pernah kedengaran aksinya. Ada anak gadis yang ditawarkan di medsos dengan harga Rp900.000. Ada juga pawang ular kobra yang justru tewas karena digigit ular kobra yang dipawanginya.

Macam-macam. Di medsos, pertarungan cebong vs kampret seperti tak pernah berakhir. Berbagai macam argumen kasar ditumpahkan, meme dan gambar-gambar ditampilkan. Info-info lama dimunculkan lagi. Semuanya datang silih berganti. Tak pernah putus. Seperti tak bisa dibendung.

Negeri ini sudah terlalu bising. Sayangnya, para elite tak bisa menemukan cara bagaimana menghentikan polusi politik tersebut. “Hebatnya” mereka justru kian menambah kebisingan ini seolah tidak ada dirijen yang mengatur orkestra ini. Atau sebaliknya, ada banyak dirijen yang mengatur kebisingan ini.

Berita Terkait : 7 Arena Jiwasraya Berujung Rangkulan?

Ini perlu segera dihentikan. Sudahlah, rakyat sangat jenuh dan bosan dengan pertunjukan ini. Rakyat berhak mendapat pendidikan politik yang baik. Rakyat berhak mendapatkan pelajaran yang sehat dari para pemimpin.

Kalau pun tontonannya berkualitas, masih bisa menghibur. Ada positifnya.

Sayangnya, tontonan itu tak menghibur. Tapi justru bikin pusing. Pusingnya pun bukan karena ceritanya misterius-berkualitas, tapi sangat mudah ditebak dan  dibuat rumit. Ngalor ngidul. Berbusa-busa.

Hebatnya lagi, semua itu bisa diakhiri dengan jabat tangan sambil bertepuk tangan. Mungkin juga ada perjanjian di bawah tangan. Lalu membawa buah tangan.

Berita Terkait : Pesan Penting: Hati-hati

Di bawah, rakyat sudah main tangan. Saling pukul. Bertarung tak ada habis-habisnya. Ironis. Sungguh menyedihkan.(*)