Figur 2024, Masih "Sersan"

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pilpres 2024 masih jauh, tapi pemanasannya sudah dimulai. Presiden Jokowi dan Menko Polhukam Mahfud MD sudah melontarkan nama.

Mahfud mendoakan Tito Karnavian jadi Presiden 2024. Wakilnya Khofifah Indar Parawansa. Mahfud memuji Tito dan Khofifah sebagai figur yang punya kapasitas.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dan Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Budi Gunawan menyebut Sandiaga Uno berpotensi menjadi calon presiden 2024.

Berita Terkait : Menangkal Hoax Corona

Lontaran nama-nama ini terdengar "sersan", serius tapi santai, karena Pilpres masih lama.  Parpol-parpol juga menanggapinya dingin. Tapi, melambungkan nama-nama sedari awal, sangatlah penting. Seperti memperkenalkan kuda pacu.

Apa yang disampaikan Mahfud atau Jokowi tentu saja tak berada di ruang kosong atau sekadar iseng. Pasti di komunitas-komunitas politik sudah mulai muncul nama-nama. Juga mulai dihitung dan dipasang-pasangkan.

Dibilang terlalu dini, juga tidak. Karena, di era-era sebelumnya, dua tahun setelah pelantikan Presiden, suasana mulai panas untuk menyongsong pilpres berikutnya. Tiga tahun sebelum pilpres, manuver-manuver mulai dilakukan. Proses penjajakan koalisi mulai digiatkan.

Berita Terkait : Tontonan Menarik dan Main Tangan

Sekarang saja, di awal-awal periode  kedua Jokowi, Nasdem  sudah mulai bermanuver. Sebut misalnya langkah Surya Paloh memanggil Anies Baswedan ke kantornya sehingga memunculkan isu poros Gondangdia dan poros Teuku Umar. Nasdem juga menjalin keakraban politik dengan PKS.

Karena politik Indonesia sangat cair dan terkadang "aneh",  segala kemungkinan bisa terjadi. Bahkan, yang tidak dibayangkan sekali pun bisa terjadi.

Misalnya, bisa saja  Prabowo-Puan dipsangkan. Atau, Anies dipasangkan dengan Sandiaga lagi. Atau, seperti doa Mahfud: Tito-Khofifah. Juga ada nama-nama lain seperti Ridwan Kamil, Risma, Ganjar, AHY, BG, atau ketum parpol. Nama-nama menteri Jokowi juga berpotensi mencuat.

Berita Terkait : 7 Arena Jiwasraya Berujung Rangkulan?

Koalisi pun bisa aneh-aneh. Karena yang terbukti selama ini baru beberapa. Misalnya, PDIP tak bisa  bersatu dengan PKS. Atau, PDIP (untuk sementara) belum bisa bersatu dengan SBY. Formasi lain, serba mungkin.

Kalau sekarang dimunculkan nama-nama untuk pilpres 2024, bisa dianggap serius. Bisa juga santai. Bisa juga untuk mengecek ombak. Atau bisa juga dilepas untuk dijadikan sasaran tembak, sementara calon aslinya belum dikeluarkan.

Apa pun bisa terjadi. Bahkan sampai detik-detik terakhir bisa melahirkan kejutan. Seperti Pilpres 2019 ketika nama Mahfud Md menguat sebagai cawapres, namun yang jadi justru Kyai Ma'ruf Amin. Itulah Indonesia.(*)