WNI Eks ISIS

BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengambil keputusan bergabung dengan ISIS dapat dipastikan sejak awal tanda tangan 'kontrak kematian.' Kalau semata janji ekonomi saja rasanya kurang powerful untuk mendorong mereka 'hijrah' ke kawasan pusat ISIS. Pasti ada motif yang lebih tinggi.

Jadi ada proses ideologisasi yang panjang sehingga bulat mau meninggalkan tanah air tercinta. Mereka teryakinkan oleh tim marketing ISIS. Janji-janji surgawi mereka tawarkan sedemikian rupa.

Berita Terkait : Terowongan Silaturahim

Janji bahwa kelak di bawah ISIS kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik. Jika pun dalam perjalanannya berjumpa dengan kematian maka kematian mereka tak akan sia-sia. Status kematian mereka mulia yakni mati Syahid.

Mereka juga mengalami indoktrinasi yang kuat tentang konsep kekhilafahan. Tentang konsep kepimpinan politik. Jadi dapat dipastikan secara konsep dan ideologi, WNI eks ISIS ini pasti tak tergoyahkan.

Berita Terkait : Wabah Virus Tiktok

Konsekuensi yang mudah diprediksi, mereka menolak konsep dan ideologi negara yang tidak berasaskan Islam seperti Pancasila. Dan sikap mereka ini tidak bisa dengan mudah di-delete dalam pikiran dan hati mereka. Dengan brain washing sistematis sekalipun.

Oleh karena demikian, maka, jika mereka kembali ke tanah air, peluang terbesarnya ialah ia menyebarkan virus ideologi mereka di tanah air. Dan ini daya rusaknya bisa lebih parah dari virus corona. Bisa memantik api intoleransi dan instabilitas dalam negeri.

Berita Terkait : Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas

Dari sinilah sepertinya mengapa Jokowi dan para petinggi negeri ini menolak menerima kembali WNI Eks ISIS. Karena akan jadi benalu bagi ideologi bangsa ini atas nama Hak Asasi Manusia sekalipun. Ini soal national security. Kecuali mereka bersedia tinggal di pulau kosong dan terisoloasi dari WNI yang lain.