SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Apakah ada reshuffle kabinet? Presiden Jokowi akhirnya menjawab, kemarin. “Sampai detik ini saya dan Pak Wapres belum berpikir ke sana,” kata Presiden, didampingi Wapres.

Pertanyaannya, apakah detik berikutnya akan mulai dipikirkan? Atau minggu dan bulan berikutnya? Hanya Presiden yang tahu. Termasuk siapa-siapa yang akan diganti atau digeser, Presiden tentu sudah punya bayangan dan tolok ukur.

Bahkan, siapa yang masih di luar, yang belum kebagian, yang  “kebelet” menjadi menteri, tentu sudah diketahui dan dirasakan oleh Presiden. Paling tidak, lewat CV yang masuk atau suara-suara yang dibisikkan secara samar-samar ke Istana.

Berita Terkait : Begitulah Politik

Isu perombakan kabinet ini “tiba-tiba” mencuat sepuluh hari terakhir. Awalnya muncul dari apa yang menamakan dirinya Tim 9 Golkar. Seperti meramal, Tim ini yakin bakal ada perombakan kabinet.

Lalu, Selasa (18/2) Presiden Jokowi mengundang para relawannya ke Istana Bogor, Jawa Barat. Dalam acara itu, reshuffle kabinet juga jadi bahan pembicaraan.

Salah seorang yang hadir mengungkapkan lewat akun twitternya: “intinya bakal ada resafel, tunggu saja yah”.

Berita Terkait : 36 Kasus Distop, Kenapa Heboh?

Isu reshuffle kemudian menghangat. Apalagi pembicaraan Presiden mengenai reshuffle bersama relawan  membuat radang beberapa pimpinan politik formal. Ada yang merasa dilangkahi, ada yang menyarankan sebaiknya Presiden tidak membicarakan hal sestrategis ini dengan para relawan.

Tapi, sebagai Presiden, tentu wajar kalau mendengar masukan dari berbagai pihak. Perkara diterima atau tidaknya, itu hak Presiden. Apalagi beberapa Menteri, sejauh ini, memang ada yang “belum nendang”.

Wacana ini, juga bisa menjadi “cambuk” bagi para menteri. Terutama yang belum optimal. Termasuk menteri yang dari parpol.

Berita Terkait : Teka-teki Gubernur

Hanya saja, wacana ini jangan sampai menimbulkan kegaduhan dan membuat para menteri tidak nyaman bekerja. Beberapa menteri memang mengaku tidak terganggu. Mereka hanya fokus kerja. Tak memikirkan reshuffle. Apa iya?

Jangan pula karena demi kepentingan kelompok, demi kepentingan mereka yang belum kebagian kursi, lalu  mendorong-dorong Presiden. Apalagi “si calon” tak memiliki kapasitas dan integritas. Ini bisa membuat Presiden merasa tidak nyaman.

Bagi rakyat, tak peduli mau menterinya si A, si B, atau si C, yang penting bisa membawa kemaslahatan. Bukan menteri yang bikin gaduh, atau yang panas-panas tai ayam, yang gedorannya cuma di awal. Bukan menteri yang sekadar numpang lewat. Tapi menteri yang “siapa pun Presidennya, dia tetap menterinya”. Kita belum punya menteri seperti itu.(*)