SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tak berapa lama setelah pengumuman ada 2 warga Depok yang kena virus Corona, sebagian masyarakat ada yang panik. Belanja sebanyak-banyaknya. Semua diborong. Virus “panic buying” ini menyebar.

Para pejabat tak mau kalah. Semua langsung berkomentar. Bahkan, ada kesan, pemerintah pusat dan beberapa pemerintah daerah, tak berjalan seiring. Ada yang lambat, ada yang cepat. Belum ada komando yang kuat.

Media sosial juga sibuk. Corona dijadikan ajang saling serang, seolah-olah Pilpres masih berlangsung dan bangsa ini masih terbelah tajam. Cebong dan kampret sepertinya tak mau berdamai.

Berita Terkait : Belajar dari Singapura

Itulah Indonesia. Semua berebut panggung dengan skenario masing-masing.

Ketika panggung itu menjadi ramai, beberapa orang yang baru masuk Indonesia lewat bandara, tampak terheran-heran sambil bertanya: kok pemeriksaannya tidak terlalu ketat?

Padahal, beberapa negara mensyaratkan warganya yang berkunjung atau berwisata ke suatu negara supaya memperhatikan keseriusan negara tersebut menangani Corona.

Berita Terkait : Begitulah Politik

Dalam beberapa hari ke depan, kita ingin melihat langkah pemerintah dalam membangun kepercayaan publik. Nasional maupun internasional.

Kita juga ingin melihat kesigapan pemerintah mengatasi dampak ekonomi setelah pengumuman Corona masuk Indonesia.

Langkah atau kebijakan tersebut jangan  hanya indah di atas kertas, tapi tidak berjalan di lapangan. Karena, kasus ini sudah sangat serius. Dampaknya kemana-mana.

Berita Terkait : Calon Menteri Masih Ngantri

Kerahkan semua kekuatan. Jangan ada lagi ego sektoral. Jangan ada lagi yang berebut panggung. Perkuat kerjasamaa pusat dan daerah. Perlu komando yang jelas. Juga jubir yang sangat paham situasi dan kondisi. Jangan ada lagi kesimpangsiuran.

Kita yakin, ini bisa dilewati dan dampaknya bisa diantisipasi supaya tak melebar kemana-mana. Kita perlu waspada tapi tidak panik. Namun, menganggap terlalu enteng, justru membuat virus itu menjadi kuat.(*)