Belajar dari Singapura

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Walau baru dua orang yang terkonfirmasi kena Virus Corona, tapi efeknya sudah ke mana-mana. Pemerintah perlu mencari cara bagaimana mengatasi virus ini, dan dampaknya, tanpa menimbulkan kepanikan.

Bisakah? Bisa! Paling tidak, Singapura, juga Vietnam, telah melakukannya. Beberapa berita yang kita dengar atau kita baca dalam beberapa hari menempatkan Singapura dan Vietnam sebagai negara yang berhasil mengatasi virus ini.

Bahkan studi terbaru di Universitas Harvard, Amerika Serikat, memposisikan Singapura sebagai “gold standard” dalam menghadapi virus Corona. Mereka menyarankan, negara lain meniru Singapura.

Berita Terkait : Corona, Jangan Berebut Panggung

Orang yang mendengar berita ini, pasti tumbuh keyakinannya terhadap Singapura. Inilah modal untuk membangkitkan kembali kepercayaan. Baik dari masyarakatnya sendiri maupun dunia internasional. 

Kepercayaan tumbuh dari transparansi. Juga keseriusan. Pemerintah Singapura mengatasinya mulai dari sekolah sampai ke soal-soal teknis yang sangat ilmiah.

Di sekolah misalnya, Kementerian Pendidikan merilis lagu yang menarik untuk membantu siswa menangkal penyebaran kuman. Reputasi Singapura yang terkenal sangat bersih dan ketat dalam menjaga kesehatan masyarakat, ikut mempercepat penanganan terhadap wabah virus yang berasal dari China ini.

Berita Terkait : Begitulah Politik

Tracking terhadap orang yang diduga, dengan siapa dia berhubungan, kemana dia pergi dalam seminggu terakhir, sangat terdata rapi lewat “tanda tangan digital”. Protapnya sudah jelas.

Singapura juga menerapkan prinsip “pengalaman adalah guru paling berharga”. Wabah SARS yang melanda pada 2003, atau 17 tahun lalu, membuat “negara kota” itu  belajar banyak. 

Sejak saat itu, mereka menemukan cara mengatasinya, dengan standar tinggi. Bermodal kesiapan seperti itu, ketika Corona datang, mereka sudah siap. Tidak tergagap-gagap. Rakyat pun percaya bahwa pemerintah mampu mengatasinya.

Berita Terkait : Calon Menteri Masih Ngantri

Walaupun Sigapura negara kecil, mestinya Indonesia bisa melakukan hal yang sama. Indonesia perlu memiliki prosedur standar yang lebih baik dari Singapura, apalagi jumlah penduduk kita sangat banyak. Tenaga ahli di Indonesia juga mencukupi.

Dengan protap tersebut, kita sudah siap ketika wabah apa pun masuk ke negeri ini. Tidak tergagap-gagap. Masyarakat juga yakin. Tidak panik. Tidak ada lagi masalah masker atau sebagian warga yang memborong barang kebutuhan pokok. Jangan terus-terusan mengandalkan prinsip “tiba masa, tiba akal”.(*)