Koalisi Gesit

BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi akhirnya mengeluhkan koalisi pemerintahannya. Mengeluh tentang kecepatan menyelesaikan proses legislasi di parlemen. Banyak peraturan perundangan dengan spirit reformasi mengalami pelambanan serius, untuk tidak menyebut stagnasi. 

Koalisi pemerintahan harus benar-benar berkelindan dengan koalisi di parlemen. Tidak ada dualisme apalagi standar ganda. Kalau ada yang demikian sebaiknya gentle: keluar saja dari koalisi. 

Berita Terkait : Lockdown

Peran opisisi biar diperankan dengan baik oleh partai-partai yang tidak tergabung dalam koalisi. Kita berharap betul kepada partai non-koalisi untuk menjadi mitra kritis pemerintah. Jangan sungkan-sungkan untuk menyerang dengan konstruktif, agar terjadi dialektika pematangan gagasan, kebijakan dan program pemerintahan.

Koalisi pemerintah menjadi kelompok penjelas maksud pemerintah mencanangkan kebijakan dan program. Jangan jadi pengeruh suasana bahkan cenderung ikut-ikutan mengganjal apalagi membusukkan. Partai koalisi sejatinya punya sesi sendiri bila pun perlu mengkritisi.

Berita Terkait : Teori Konspirasi

Sesi partai koalisi mengkritisi yakni sebelum akhirnya kebijakan atau program di lempar secara resmi ke parlemen atau ke publik. Dibuatlah forum internal hearing antara menteri-menteri anggota koalisi dengan wakil rakyat yang berasal dari partai koalisi. Di situlah perdebatan sengit dilakukan. Sampai akhirnya tercapai kata sepakat. Satu keputusan. Setelah itu tak ada lagi perdebatan di antara sesama koalisi.

Ini semata selain mengurangi kegaduhan, juga untuk kecepatan. Kecepatan pengambilan keputusan di parlemen agar pemerintah bisa segera mengeksekusi. Waktu berjalan cepat. Lima tahun itu serasa setahun. Pergunakan secara efektif. Hemat energi hemat biaya.

Berita Terkait : Mendramatisir Corona

Kalau semua terjadi maka tidak akan ada keluhan. Di tengah persoalan adanya serangan eksternal yang tak diduga-duga seperti wabah Corona sangat mengganggu banyak agenda penting kita. Kita dibuat sibuk mengurusi persoalan yang sejatinya tidak ada dalam rencana. Oleh karena itu penting semua menambah kecepatan, tanpa mengabaikan ketepatan, agar negara benar-benar hadir, sekarang dan di masa datang.