Lawan Corona, Mulai Dari 0

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sudahlah. Yang lalu biar berlalu. Menghadapi Corona, kita tatap ke depan. Karena, prediksi beberapa pakar, ini baru awal. Puncaknya, bisa April, bahkan Mei. Sampai lebaran. Dampaknya, bisa menjalar jauh ke depan.

Ini bukan soal Jokowi, Anies, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Khofifah atau Risma. Ini juga bukan soal Pilkada serentak 2022 atau Pilpres 2024. Bukan. Lupakan dulu itu. Ini soal kemanusiaan yang dampaknya bisa sangat luar biasa. Multi-effect. Ekonomi,  politik, sosial, budaya dan hankam, bisa kena.

Melemahnya rupiah atau Indeks Harga Saham misalnya, bagi kita yang awam, itu seperti barang aneh. Tidak dimengerti. Perlu penjelasan sederhana, dan tak perlu mengutip teori atau istilah ekonomi, untuk memahaminya.

Berita Terkait : Kenapa DPR Didahulukan?

Tapi, bagi pemerintah, itu bisa sangat fatal akibatnya. Dampaknya sungguh luar biasa. Utang bisa menumpuk, berlipat-lipat. Masalahnya, kita sudah telanjur memiliki banyak utang. Ditambah kondisi berat seperti sekarang, bebannya kian berat.

Harga-harga pasti melonjak naik, karena banyak bahan bakunya yang diimpor, dibeli menggunakan Dolar. Bahan baku obat misalnya, 90-95 persen diimpor dari China. Melemahnya Rupiah membuat harga obat bakal melambung. Sementara kita di sini, sedang membutuhkan obat.

Karena itu, kebijakan, langkah taktis dan strategis pemerintah akan menentukan nasib kita ke depan. Salah hitung, bisa fatal akibatnya. Ibarat minum obat, harus tepat dosisnya. Kalau resep dan obatnya salah, gawat.

Berita Terkait : Istilah Corona, Jangan Sulit-sulit

Pertikaian di media sosial, juga diharapkan lebih bijak. Kalau sekarang, Jokowi sedang dikritik keras, itu hanya kondisi sesaat. Sama seperti saat banjir, saat itu Anies yang terpuruk, dikritik keras.

Semua pemimpin tidak luput dari kekeliruan. Setiap pemimpin selalu punya celah untuk diserang. Hari ini si A menyerang si B, besok bisa sebaliknya. Kalau itu terus terjadi, sampai kapan. Tidak ada ujungnya.

Sekarang, hubungan sosial politik  perlu diinstal ulang. Mulai dari nol. Hanya saja jangan curang. Jangan ada yang memulai lagi. Siapa pun. Dari kubu mana pun. Bersihkan dunia maya dan dunia nyata Indonesia dari saling serang yang tidak produktif.

Berita Terkait : Corona, Kita Dapat Apa?

Ini bukan berarti tak boleh kritik. Kritik tetap penting. Karena kritik adalah pengawasan dan jamu. Tidak bisa dilarang. Bahkan sangat dibutuhkan. Oleh rezim mana pun, kapan pun. Peran mengkritik dan menjawab kritik, hanya gantian saja. Peran bergilir.

Sekarang, kita hadapi Corona bersama-sama. Sama-sama mulai dari 0. Lakukan gencatan senjata. Melawan “benda kecil” ini butuh kekuatan besar dan gotong royong.(*)