Nyiram Bensin

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Diksi-diksi menyindir yang disampaikan para politisi mengarah ke kondisi yang tidak sehat. Bahkan, ada yang “main fisik”. Politisi genderuwo yang pertama kali dilontarkan Presiden Jokowi misalnya, oleh kubu lawan Jokowi dipersonifikasikan sebagai salah seorang pimpinan partai yang memiliki brewok ikonik. Pakai video pula. Dan viral.

Ini kurang mendidik. Ibarat menambah “bensin” permusuhan yang memang sudah panas, terutama di media sosial. Ini bisa memperkuat militansi untuk saling mengolok-olok antar pendukung capres-cawapres. Perang penafsiran antara kubu Jokowi dan Prabowo, kian menambah gaduh suasana.

Berita Terkait : Kursi Wagub Dan Hukuman

Semakin membingungkan. Pakai puisi segala. Isinya, puisinya saling sindir. Pengamat seni perlu menerjemahkan fenomena puisi politik yang dilatarbelakangi istilah sindiran-sindiran politik seperti ini. Politisi sontoloyo, genderuwo, “tampang boyolali”, politik dan ekonomi kebodohan. Belakangan muncul lagi istilah “budek dan buta”. Setelah muncul istilah-istilah ini, masing-masing kubu mencari tafsiran pembenar yang mengutungkan pihaknya sekaligus menyerang pihak lawan. Kubu Jokowi menyindir kubu Prabowo. Begitu pula sebaliknya. Akibatnya, atmosfer politik disesaki oleh suara-suara dan narasi yang tidak substantif. Hal-hal remeh temeh mendominasi ruang publik.

Kita menginginkan, kedua kubu membahas atau berdebat mengenai masalah-masalah pendidikan, ketenagakerjaan, industri, pangan, hukum, terutama korupsi, pertanian dan kesehatan. Isu-isu mengenai teknologi, revolusi industri 4.0, pertahanan dan keamanan, pertanahan dan banyak lagi sektor lainnya, bisa menjadi topik yang menarik.

Berita Terkait : Panas Sebentar

Topik atau isu-isu tersebut bisa dielaborasi dengan detil. Turunannya banyak. Tak habis kalau dibahas. Biasanya, masalah-masalah tersebut memang dibicarakan saat debat resmi capres-cawapres. Namun, debat capres-cawapres tidak cukup untuk menyentuh semua persoalan yang dihadapi bangsa ini.

Sekaranglah saatnya mengelaborasi isu-isu tersebut oleh para juru bicara masing-masing kubu. Kubu Prabowo mengkritik, kubu Jokowi menjawab. Bagi sebagian rakyat mungkin terlalu elitis. Terlalu tinggi. Tidak membumi. Susah dipahami. Nah, di sinilah tugas jubir untuk menyampaikannya sesuai target sasarannya. Bisa menggunakan bahasa rakyat, bisa juga bahasa ilmiah. Tergantung audiensnya.

Berita Terkait : Mana Pak Gub Dan Wagub?

Kita menunggu itu. Bukan sekadar disibukkan sontoloyo, genderuwo, tampang boyolali, politik kebodohan, budeg, buta dan sejenisnya. Untuk kedua kubu, Berilah pendidikan yang baik kepada rakyat, bukan menyiramnya dengan “bensin” yang justru memanaskan atmosfer yang memang sudah pengap. Rakyat butuh suasana segar. Rakyat punya mata hati.