Bisakah Corona Cepat Berlalu?

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ada satu pertanyaan yang diajukan hampir semua penduduk bumi: kapan Corona berakhir? Kapan physical distancing dihapus, boleh berdekatan lagi, boleh kembali beribadah di tempat ibadah; mal, toko-toko dan cafe-cafe kembali di buka, kerumunan tidak lagi dilarang, sekolah dan kampus kembali dibuka, tidak lagi work from home, transportasi berjalan normal, ekonomi kembali menggeliat. Semuanya kembali seperti biasa walau dengan “new normal”. Kapan?

Banyak sekali model prediksinya. mulai dari yang tercepat sampai yang terlama. Yang tercepat sekitar akhir Mei. Setelah lebaran. Yang agak lama, akhir Juli. Ada juga yang memperkirakan, pengumuman merdeka dari Corona akan dilakukan bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan 17 Agustus 2020. Ada juga yang memprediksi akhir tahun ini.

Dari prediksi-prediksi tersebut kucinya cuma dua. Pertama, intervensi serta langkah cepat dan tepat pemerintah. Kedua, kedisiplinan masyarakat. Ketika ini berjalan seiring, maka akan terjadi percepatan berakhirnya pandemi Corona. Kita berharap, ada percepatan.

Berita Terkait : Menanyakan Mafia Alkes

Selanjutnya, dampak Corona tidak berlangsung terlalu dalam dan melebar. Ini yang perlu diantisipasi. Jangan seperti di awal-awal Corona, ketika penanganannya dinilai kurang memuaskan, bahkan terkesan meng anggap enteng disertai gurauan.

Sekarang, dampak Corona sudah terjadi dan dirasakan. Meningkatnya jumlah pengangguran dua bulan terakhir menjadi sinyal kuat supaya ada antisipasi serius. Ini bisa menjadi alarm terjadinya masalah sosial.

Pemerintah perlu menyelami psikologi publik lebih dalam dan terukur. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat akan lebih sensitif terhadap kebijakan dan langkah para pembuat kebijakan.

Berita Terkait : Ada Apa “Toean dan Oligarki”?

Keputusan menunda pembahasan draf RUU Omnibus Law Cipta Kerja klaster ketenagakerjaan misalnya, layak diapresiasi. Beberapa pihak bahkan meminta supaya 10 klaster lainnya, juga ditunda atau bahkan dihentikan.

Ha-lhal lain yang sensitif, misalnya penyaluran bantuan atau penggunaan dan pertanggungjawaban anggaran Corona sebesar Rp 405,1 triliun, juga tidak bisa diabaikan. Kita berharap badai ini cepat berlalu dan semuanya bisa kembali berlayar.

Hanya saja, yang kurang beruntung, perlu dituntun lewat subsidi dan bantuan-bantuan supaya tidak oleng dihantam gelombang atau jauh tertinggal.

Berita Terkait : Kebijakan Salah: Melenyapkan Burung

Sekarang, pemerintah dan masyarakat punya wewenang untuk melaku kan “rekayasa” percepatan Corona. Punya kesempatan membuatnya pergi lebih cepat dari “jadwal” dan prediksi. ***