Nonton Debat

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Nonton debat capres di tivi tidak sama dengan nonton sepak bola atau tinju. Nonton bola atau tinju, kalau tak terdengar teriakan penonton, tidak seru. Sepi. Hambar.

Ini bedanya dengan menonton debat capres atau cawapres. Para capres butuh konsentrasi. Perlu fokus. Teriakan penonton justru mengganggu konsentrasi. Ini merugikan para penonton di rumah yang menginginkan gagasan dan solusi dari para kandidat, keluar semua.

Berita Terkait : Pilpres Dan Pileg Jangan Oleng

Kericuhan antar pendukung seperti debat kedua, Minggu (17/2) lalu, juga sangat mengganggu. Akibatnya, suasana jadi tegang, para capres tidak nyaman.

Siaran langsung televisi pun harus “buru-buru” menertibkan penonton nyaring dan luasnya teriakan atau celetukan yang disampaikan penonton di studio, juga perlu ditertibkan. Atribut yang dibawa penonton, juga perlu disortir.

Berita Terkait : Caleg & Korupsi

Karena, bisa mempengaruhi para kandidat, juga penonton di rumah. Untuk debat selanjutnya, sebaiknya penonton sangat dibatasi. Maksimal 30 dari masing-masing kandidat, sudah ideal.

Penonton tak boleh teriak atau mengeluarkan celetukan keras yang bisa mengganggu bahkan memprovokasi serta mengintimidasi capres/ cawapres serta penonton di rumah.

Berita Terkait : Drama Bola

Penonton ingin mendapatkan sesuatu yang murni dan natural dari para capres. Kalau perlu, sebaiknya sesi tanya jawab antar kandidat, diperbanyak. Ini bisa menggali lebih banyak.
 Selanjutnya