SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah terus menggelontorkan dana untuk rakyat. Dijadwalkan, hari ini, bantuan Rp600 ribu untuk pekerja bergaji di bawah Rp5 juta per bulan, mulai ditransfer. Langsung. Bantuan untuk UMKM, juga diluncurkan, kemarin. Di manakah para pengusaha atau miliarder?

Kita yakin, para miliarder punya cara sendiri untuk membantu rakyat. Mungkin tidak terpublikasi. Tak mau gembar-gembor. Tapi, saat ini, mempublikasikan sumbangan bisa dimaklumi. Bukan “nyohor”. Karena, kegiatan amal tersebut bisa menjadi gelombang kebaikan yang menginspirasi dan kian menggugah miliarder lainnya.

Maret lalu, di awal-awal pandemi, Rakyat Merdeka menurunkan headline “perlunya konglomerat dan para menteri yang merangkap pengusaha menjadi pionir sumbangan untuk melawan Corona”.

Kita tahu, beberapa anggota kabinet adalah pengusaha sukses. Negeri ini juga memiliki banyak konglomerat. Menurut situs Forbes, Indonesia memiliki 21 miliarder dunia.

Berita Terkait : Kotak Kosong, Sampai Kapan?

Pada Februari 2020 lalu, sebelum Corona merebak di Indonesia, Lowy Institute, sebuah lembaga independen nonpartisan yang berbasis di Sydney, Australia, menurunkan laporan menarik. Judulnya, Indonesia: the not so good news.

Laporan itu menyebutkan, berita baik tentang kesuksesan ekonomi Indonesia (saat itu) menutupi situasi nyata bahwa Indonesia menjadi negara kaya, tetapi masih memiliki banyak orang yang sangat miskin.

Lowy menyebutkan, kekayaan baru Indonesia tidak mengalir dengan baik. Kekayaan empat miliarder terkaya di Indonesia (25 miliar USD) setara dengan pendapatan 40 persen orang miskin di Indonesia (sekitar 100 juta orang).

Lima atau enam bulan berlalu setelah laporan itu, Indonesia sekarang di ambang jurang resesi ekonomi. Orang miskin bertambah. Kehidupan semakin susah. Pemerintah juga kerepotan.

Berita Terkait : Hati-hati `Polidemic`

Bagi rakyat, resesi adalah masalah angka-angka yang rumit. Sulit dimengerti awam. Sangat teknis. Namun, rakyat sangat mengetahui dan merasakan: jauh sebelum Indonesia resmi dinyatakan resesi, kehidupan sudah sangat sulit.

Ketika rakyat dan pemerintah pontang-panting menghadapi krisis, kita yakin, para konglomerat, miliarder dan “menteri-pengusaha” sudah menggerakkan gelombang kebaikan. Walau tak terpublikasi. Kita juga berharap, sumbangsih itu akan terus mengalir dan mengular.

Kita yakin, di dalam ekonomi yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Kehidupan sosial juga sehat. Ketika semuanya sehat, bangsa ini juga sehat. Kuat.

Itu terbukti dalam beberapa studi mengenai UBI (Universal Basic Income), yakni pemberian bantuan langsung untuk kebutuhan dasar rakyat. Disebutkan bahwa: bantuan, apa pun, dari mana pun, akan mengurangi kemungkinan kerusuhan sosial dan konflik.

Berita Terkait : 17 Agustus, Ingat Rudi Salam

Bantuan tersebut juga akan mengurangi migrasi massal yang tidak dapat dikelola, serta mengurangi berkembangnya kelompok yang memanfaatkan dan mengobarkan kekecewaan sosial. Karena itu, ketika rakyat dibantu, maka rakyat akan “membantu”.(*)