SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Awalnya bersatu. Mau berbagi. Demi solidaritas kemanusian. Sekarang malah jadi bisnis besar. Tidak ada lagi jaminan harganya murah. Janji tingal janji.

Itulah yang terjadi dalam perlombaan atau “perang vaksin” saat ini. Universitas Oxford, misalnya, sempat menghadirkan harapan kepada dunia lewat janjinya: akan menyumbangkan vaksin virus Corona kepada produsen obat mana pun di dunia. Silakan dikembangkan dan diproduksi. Tak ada yang disembunyikan. Tujuannya mulia: kemanusiaan.

Tapi bisnis yang berdiri atas nama keuntungan punya caranya sendiri. Tak berapa lama setelah janji itu, Oxford berbalik arah. Mereka menandatangani kesepakatan vaksin eksklusif dengan AstraZeneca, perusahaan besar farmasi.

Berita Terkait : Malaysia, Gas dan Rem

Di mana posisi Indonesia? Di awal-awal, Indonesia lebih condong untuk bekerjasama dengan Sinovac, perusahaan China. Setidaknya, itu yang muncul di pemberitaan. Kandidat vaksin Sinovac sudah melakukan uji klinis tahap ketiga di Bandung. Sekarang tinggal menunggu hasilnya.

Karena tidak mau terikat satu perusahaan, Indonesia kemudian menjalin kesepakatan dengan pihak lain. Salah satunya, AstraZeneca. Juga ada perusahaan asal Uni Emirat Arab.

Selain membuat vaksin dengan harga “negara kaya”, AstraZeneca juga menjanjikan vaksin murah untuk negara yang belum kaya. Indonesia bisa masuk ke sini.

Berita Terkait : Kotak Kosong, Sampai Kapan?

Jalan ke sini bisa dilalui antara lain lewat jalur Bill & Melinda Gates Foundation. Gates, yang juga punya jaringan dengan AstraZeneca, sudah menjanjikan akan mengupayakan vaksin berharga murah untuk negara-negara berkembang. Apakah Indonesia termasuk?

Sejauh ini, vaksin yang disiapkan untuk imunisasi massal di Indonesia, harganya sekitar Rp 25-30 dollar AS atau kisaran Rp 366.000 sampai Rp 439.000. Itu untuk dua kali suntik.  Ini info dari Bio Farma yang pernah disampaikan Menteri Erick Thohir di depan DPR.

Selain soal harga yang terjangkau, peta jalan dan tahapan alih teknologi dari Sinovac ke BioFarma, juga harus jelas, terukur serta ada timeline-nya.

Berita Terkait : Pemerintah, Konglomerat, dan Rakyat

Vaksin buatan Indonesia, vaksin Merah Putih, juga diharapkan bisa segera dikebut. Supaya tidak lagi tergantung ke negara lain.

Penggunaan “vaksin darurat”, yang belum selesai uji klinis dengan sempurna, juga perlu dipertimbangkan serius. Perlu atau tidak. Jangan sampai rakyat yang menjadi korbannya.

Semoga Indonesia bisa segera mengendalikan Covid 19 dengan jalur yang benar, cepat dan tepat. Juga transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Untuk rakyat. Bukan untuk siapa-siapa.(*)