BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mengail di air keruh. Mencari kesempatan di dalam kesempitan. Itulah di antara beberapa ungkapan untuk menggambarkan pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk berbahagia di atas penderitaan orang lain, mengambil untung di atas kebangkrutan orang lain. 

Di masa pandemi ini banyak sekali oknum yang mengkapitalisasi pandemi. Mereka memanfaatkan situasi darurat. Ada klausul, atas nama pandemi pemerintah bisa menyalurkan anggaran dengan segala kelonggaran pelaporan. 

Berita Terkait : Kenormalan Baru Yang Tidak Normal

Ada fleksibilitas dalam proses audit laporan pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan Belanja Negara/Daerah (APBN/D). Sekali lagi atas nama emergency situasi. Untuk kecepatan meski akhirnya kedodoran dalam hal ketepatan. Di sinilah problemnya. 

Kecepatan ini terkait dengan kemendesakan antara hidup-mati. Soal perut kelaparan. Oleh karenanya dana mesti segera disalurkan kepada para pihak yang membutuhkan. Problemnya, database orang yang membutuhkan inilah yang kacau balau. Kekacau-balauan database inilah menjadi room bagi penyimpangan. Dimanfaatkan betul untuk membelokkan saluran anggaran untuk memperkaya diri. Dan itu sudah terjadi namun sayang tidak bisa dilacak dengan kegiatan audit independen. 

Berita Terkait : Corona Anjay

Kalau sudah seperti ini, kita hanya bisa mengutuk. Kekejian mereka sebagian cepat atau lambat akan ketahuan, terjerat perkara hukum. Ada yang akhirnya diadili namun sayang banyak juga yang bebas tuntutan. 

Kita berharap sesungguhnya pandemi ini meningkatkan kepekaan hati. Sensitif terhadap penderitaan orang lain. Peduli pada kesengsaraan orang lain. Dan sikap jiwa itu bersemayam di jiwa para pemimpin dan seluruh aparatur abdi negara.