SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ahok bikin geger. Dia benar-benar membuka “borok” Pertamina, perusahaan BUMN dimana dia menjadi Komisaris Utamanya.

Banyak sekali yang dia ungkap. Misalnya, Pertamina membayar konsultan Rp 1,5 triliun per tahun, direksi yang suka melobi menteri, banyaknya komisaris “titipan”, juga bonus Rp 230 miliar untuk direksi cucu perusahaan.

Ahok juga mengungkapkan bahwa Pertamina ngotot membeli ladang minyak di luar negeri, padahal uangnya ngutang. Dia mempertanyakan, kenapa tidak mengeksplor dalam negeri saja, karena masih ada potensi di 12 cekungan. “Jangan-jangan ada komisinya,” tanya Ahok.

Dia juga mempertanyakan Pertamina yang membeli LNG mahal ketika harga LNG dunia sedang murah. Kontraknya bahkan sampai 45 tahun. Dia juga mempertanyakan Pertamina yang membeli aset di luar negeri padahal biaya perawatannya mahal.

Mantan Gubernur DKI ini juga menyinggung Peruri, BUMN lain yang meminta Rp 500 miliar ke Pertamina untuk proses paperless. “Ini seperti ular sanca,” katanya.

Berita Terkait : Hak Demokrasi Vs Hak Sehat

Ahok juga mengusulkan supaya Kementerian BUMN dibubarkan sebelum Jokowi turun. Gantinya, Indonesia Incorporated, semacam Temasek di Singapura. Ini ide lama yang digaungkan dari presiden ke presiden tapi tak pernah berhasil.

Masih banyak yang dia ungkapkan dalam acara “Satu Jam Bersama BTP” yang disiarkan langsung di Channel YoutTube Amerika BerSATU (AB1), Rabu (9/9/2020) lalu.

AB1 adalah ormas pendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Mereka berkedudukan di Amerika.  Organisasi ini terbuka, tanpa membedakan SARA. Anggotanya tersebar di seluruh AS. Diskusi dengan Ahok ini diunggah seorang youtuber atas courtesy dari AB1.

Kembali ke substansi yang diungkapkan Ahok. Apakah yang diungkapkannya benar? Apakah Ahok “hanya” membuat gaduh sehingga perlu dicopot, seperti usulan seorang anggota DPR dari Gerindra?

Jangan lihat siapa yang berbicara, lihatlah isi pembicaraannya. Substansinya. Apa yang disampaikan Ahok bisa sangat benar, benar atau agak benar. Atau sebaliknya, bisa juga keliru, salah, karena informasi yang diterimanya kurang lengkap.

Berita Terkait : Hentikan Polarisasi Ini!

Ini perlu dijelaskan, diungkap dan diselesaikan setransparan mungkin. Bisa saja ini diselesaikan di dalam, internal Pertamina, misalnya oleh Menteri Erick Thohir saja. Atau bisa juga Presiden Jokowi yang turun langsung.

Dalam kasus ini, tidak ada lagi istilah pendukung Ahok atau bukan. Kepentingannya sama: menyelamatkan BUMN. Menyelamatkan uang rakyat di tengah kesulitan ekonomi dan kesehatan saat ini.

Atau, jangan-jangan Ahok hanya bikin gaduh seperti disampaikan salah seorang anggota DPR sehingga Ahok perlu dicopot?

Atau ini imbas dari pernyataan Ahok yang viral, kemudian Pertamina rugi Rp 11 triliun dan berkembang dengan saling menyalahkan?

Lepas dari itu, hilangkan dulu “cebong atau kampret”. Bagi rakyat, demi kebaikan, tak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. Selesaikan substansinya. Tuntaskan.

Berita Terkait : Ironi Pilkada dan Covid

Tinggal kita tunggu hasilnya. Apakah kucing akan terus mencakar, atau tikus akan terus mengembangkan keahliannya untuk bersembunyi.

Atau, seperti Tom and Jerry, benci tapi rindu, cakar-cakaran tapi tetap bersahabat, duduk bersama lalu ngopi bersama?

Di mana rakyat? Seperti biasanya, hanya menonton. Seperti menonton drama atau film. Diputar di layar lebar dan terang, duduk menikmati di tengah ruangan yang digelapkan.(*)