Hening Politik

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Saya pernah merasakan suasana Nyepi waktu tinggal di Bali. Itu tahun 90- an. Suasananya memang hening. Sangat sepi. Senyap. Semua aktivitas dihentikan. Termasuk bandara dan pelabuhan, kecuali rumah sakit.

Saya yang tinggal bersama teman-teman Bali yang beragama Hindu, ikut merasakan suasana itu. Semua melakukan perenungan. Introspeksi. Bicara pun pelan sekali. Dijaga benar. Tidak ada yang teriak.

Berita Terkait : Awasi Daerah

Teman-teman saya berdoa, memohon supaya “bhuana kecil” (diri sendiri) dan “bhuana besar” (jagat raya) disucikan. Dibersihkan dari segala kekotoran, menyambut tahun baru Saka.

Dalam hitungan kalender, tahun ini dimulai sejak 78 Masehi. Tahun ini Hari Raya Nyepi jatuh pada 7 Maret. Hari Kamis. Kejepit dengan libur Sabtu-Minggu. Beberapa teman memanfaatkan untuk berlibur. “Saya ingin lepas dari hiruk-pikuk Jakarta.

Berita Terkait : "Gakribet”

Puasa bicara dan baca politik,” kata seorang kawan. Tepat. Nyepi di tahun politik. Karena, selama setahun ini, jagat Indonesia dipenuhi aroma dan atmosfer politik. Saling sindir. Saling serang. Saling membuka borok. Saling ejek.

Termasuk para elitenya. Gas terus. Apalagi di kalangan rakyat. Sangat menegangkan. Media sosial, seperti grup-grup WA, Facebook, Twitter dan Instagram dipenuhi info-info yang memprovokasi dan memperpanas suasana.
 Selanjutnya