Darurat Demokrasi

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Berita politik menyebar begitu cepat. Berita bener dan ngga bener viral sama cepat. Perkembangannya per detik, sampai ke ponsel pintar dengan begitu lengkap.

Detail tapi acak. Sepertinya, ada kekuatan tak terlihat mengendalikan arus ragam berita itu. Sebut saja, berita ngawur (hoaks) terakhir yang menyebut KPU sudah disetting memenangkan Jokowi dengan suara 57 persen.


Alhamdulillah KPU bergerak cepat dengan melaporkan hoaks ini ke Bareskrim Polri. Hoaks terus berganti tanpa jeda. Belum sempat mencerna apa yang terjadi, tersebar berita hoaks baru. Ini kerjaan politik siapa ya.

Berita Terkait : Perang Citra Jadi Magnet Massa

Berita sampai layar smartphone bukan melalui saluran media massa yang tertib judul, tertib sudut cerita, tertib penulisan, dan tertib editing foto dan gambar peristiwa, melainkan melalui saluran viral media sosial.

Suguhan yang dari segala aspeknya berbeda dengan media mainstream. Berita gambar dan narasi yang viral di jejaring media sosial selain telanjang tanpa sensor, juga tidak jelas narasumber.


Tidak jelas siapa yang bertanggung jawab kebenaran narasi dan gambar-gambar itu. Semua dibuat seperti benar terjadi. Seperti semua telah menjadi bagian dari strategi.

Berita Terkait : Ustadz Bijak Berpihak

Dengan gaya penulisan seadanya, mereka berusaha membuat sepotong cerita tentang kekacauan sistem, seringkali dicampuri opini dan emosi pemostingnya. Setiap hari terus selalu ada yang baru.

Tidak sedikit yang hanyut dalam emosi, tercermin dalam kolom komentar dan saat menshare posting-posting yang terserak itu. Lengkap sudah, kita merasakan Indonesia yang darurat demokrasi.


Kemana negara saat rentetan hoaks datang silih berganti. Apa harus menunggu semua jatuh korban? Sepertinya begitu. Entahlah. Siapa yang tengah mengendalikan situasi di republik medsos ini. ***

RM Video