Ustadz Bijak Berpihak

BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Satu pihak, dari sisi pragmatisme politik, para kontestan boleh menggaet siapa saja tokoh publik dengan basis massa ril. Termasuk menggandeng para pemuka agama dengan basis jamaah yang besar dan solid.

Sejarah perpolitikan tanah air dan di berbagai negara menunjukkan adanya realitas tersebut. Di Indonesia, dengan penduduknya mayoritas Islam terbesar di dunia, para kyai, ustadz, dai’, dan mubaligh, sudah punya sejarah panjang dalam keterlibatannnya di dunia politik praktis.

Sebagian memilih tetap di luar lapangan sebagai influencers atau endorsers, sebagian lagi gregetan dan tergoda masuk lapangan, jadi pemain politik. Mereka beradu kuat dengan simpul-simpul massa lainnya.

Di pesta demokrasi 2019 ini, para pemuka agama Islam terbelah. Keterbelahan mereka tentu berdampak besar ke tingkat akar rumput, jamaah majelis-majelis binaan mereka. Dan pergerakan massa berbasis jamaah ini dipengaruhi oleh para pemuka panutan mereka.

Berita Terkait : Emak-emak Adalah Kunci

Santun, sejuk, kasar, beringas, sikap mereka, tergantung pemimpinnya. Oleh karenanya, berharap sekali para pemuka ini menunjukkan good manner.

Dunia perpolitikan kita, di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi, sangat membutuhkan hadirnya keteladanan. Keteladanan dalam bertutur, menunjukkan dukungan, dan mengambil langkah-langkah politik.


Hadirkan akhlaq berpolitik yang bisa merekatkan persaudaraan di tengah provokasi perbedaan pandangan dan sikap politik.

Kedua kubu saat ini sudah menunjukkan permainan yang keras, menyerang, dan total. Sudah mulai terbuka ujaran-ujaran yang bernada serangan ke tingkat yang paling personal.

Berita Terkait : Perang Langit

Bumbu-bumbu retorika turut memberi nuansa yang mengoyak-ngoyak emosi massa tingkat grassroots. Masing-masing selalu berusaha mendramatisasi setiap peristiwa yang bisa menguatkan dukungan dan memikat massa mengambang agar segera menentukan pilihan.

Kinerja para buzzers kedua kubu terus meningkatkan serangan. Meme-meme semakin liar bertebaran. Plintiran-plintiran pernyataan tokoh semakin menjadi-jadi. Video editan dengan segala aktivitas penggiringan opininya terus membombardir seluruh jaringan lini massa.

Seluruh buzzers dibayar mahal agar setiap suntingannya terus menjadi trending topic. Sementara itu, di tengah engineering opini publik seperti itu, sayup-sayup terdengar khotbah moral asatidz-asatidzah dengan polosnya.

Banyak di antara mereka tidak sadar bahwa mereka tengah terombang-ambing dalam pusaran arus politik yang dimainkan para bajingan politik tengik.

Berita Terkait : Merawat Indonesia

Mereka yang slalu bicara atas nama dan menangguk untung besar dari ketulusan doa’ seorang pemuka agama di suraunya yang hampir rubuh. **