Survei Dan Tahu Gejrot

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Survei memang selalu terukur. Tapi, terkadang sangat gelap. Untuk Pilpres misalnya, banyak lembaga survei yang menempatkan pasangan Jokowi Ma’ruf sebagai pemenang.

Namun, “survei internal” kubu Prabowo menempatkan pasangan Prabowo-Sandi sebagai pemenangnya. Ada yang mempertanyakan hasil survei internal ini.

Kok bisa hasilnya berseberangan dengan lembaga lain? Karena itu, kubu Jokowi menyatakan, “survei internal tersebut hanya untuk menyenangkan Prabowo yang elektabilitasnya tak bisa melampaui Jokowi”.

Namun, kubu Prabowo sangat yakin, survei tersebut benar. Akurat. Prabowo 62 persen, Jokowi 38 persen.

Baca Juga : Persebaya Keberatan Soal Rencana PSSI Gelar TC Timnas Pada Maret 2020

Seorang diplomat asing yang bingung dengan hasil survei yang berbeda-beda sempat menanyakan hal ini. Diplomat dari salah satu negara maju di Asia ini heran terhadap lembaga survei di Indonesia.

“Kenapa hasilnya bisa beda jauh sekali,” tanyanya. Di negaranya, dimana kejujuran menjadi karakter penting, hasil survei sangat dihormati. Tapi inilah salah satu warna demokrasi di Indonesia.

Hasil survei yang bisa mempengaruhi opini publik, akan menjadi senjata. Ada efek psikologisnya. Seperti warung makan atau restoran.

Kalau banyak mobil parkir di depan restoran tersebut, orang yang lewat akan menyimpulkan: pasti enak. Banyak pelanggannya. Keren-keren pula. Coba ah!

Baca Juga : BNI Berikan Fasilitas Istimewa Buat Nasabah Emerald

Namun, sebagaimana siang dan malam, survei juga bermacam-macam. Ada yang sangat akurat, akurat, tidak akurat dan “patut dicurigai”. Kedua kubu capres tentu sudah tahu itu.

Bahkan, siapa pemenangnya, kalangan internal sudah bisa mengkalkulasi dan merasakannya. Kalau pun ada yang harus diumumkan ke publik, tentu outputnya harus optimis.

Karena, optimisme itu selalu membawa harapan: opini publik masih bisa dipengaruhi. Seperti warung makan di pinggir jalan yang antrean kendaraannya panjang.

Melihat antrean panjang dan keramaian itu, orang yang lewat akan berkata: “mampir ah!”. Setelah masuk dan mencoba, baru dia bisa menyimpulkan, “oh, rasanya enak banget!”.

Baca Juga : Komisi IV Dukung Temanggung Jadi Sentra Terbesar Bawang Putih

Atau, “rasanya biasa saja. Tidak enak.” Sayangnya, pemilu bukan untuk coba-coba. Tidak seperti mencoba tahu gejrot atau sate kambing. ***