Koalisi Baru

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - PAN memiliki peluang terbesar untuk bergabung dengan koalisi Jokowi-Maruf. Sementara Demokrat masih terkendala hubungan Megawati dan SBY yang “belum normal”.

PAN sudah punya peta jalan untuk “lompat pagar”. Pada Pilpres 2014, PAN mengusung Hatta Rajasa untuk mendampingi Prabowo. Pasangan ini kalah oleh Prabowo-JK. Selisihnya cukup tipis, enam persen.

Tak tahan godaan, setahun setelah Pilpres, 2015, PAN akhirnya bergabung dengan kubu Jokowi-JK. Awalnya, PAN malu-malu. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan berdalih bahwa mereka tak mengincar apa-apa. Fakta kemudian membuktikan bahwa Jokowi menyerahkan kursi kabinet untuk PAN.

Baca Juga : Rupiah 14 Ribu Lagi, Sri Mul Masih Bisa Tenang?

Sekarang juga demikian. Jokowi sudah bertemu Zulkifli. Lagi-lagi, katanya hanya silaturahmi. Tapi, tentu saja, “tidak ada makan siang gratis”. Jokowi butuh dukungan terutama di parlemen, sementara PAN butuh kekuasaan. Bentuknya, bisa kursi kabinet.

Bagaimana dengan Amien Rais yang sekarang tampak sangat menyerang pemerintahan Jokowi? Dengan idiom-idiom khasnya yang tajam, Amien misalnya menyebut “bebek lumpuh” dan segala macam sebutan. Sepertinya tak bakal bisa ketemu dengan Jokowi.

Memang terlihat ada gap yang sangat tajam dan lebar. Tapi, pengalaman sudah membuktikan bahwa Amien juga bisa luluh, seperti pengalaman 2014. Saat itu, beberapa tokoh PAN mengklaim, keputusan untuk bergabung dengan pemerintah Jokowi pada 2014, juga atas persetujuan Amien.

Baca Juga : Makin Menggila, WHO Naikkan Status Darurat Wabah Corona ke Level Tertinggi

Ini bedanya dengan Demokrat-PDIP. Hubungan SBY dengan Megawati sampai sekarang masih terkendala. SBY sendiri pernah mengakui hal tersebut.

Sebelum Pilpres 2019 lalu, Demokrat sebenarnya punya kans untuk bergabung dengan koalisi Jokowi-Maruf. Tapi, seorang tokoh Demokrat mengatakan, “ada yang menutup pintu rapat-rapat”. Demokrat akhirnya bergabung dengan Prabowo-Sandi, dengan segala macam dramanya, termasuk insiden “jenderal kardus” dan sebagainya.

Namun, politik tetap saja poilitik, seni memungkinkan yang tidak mungkin. Semuanya bisa terjadi. Bahkan yang pernah terpikirkan sekali pun. Hanya dalam teori, air dan minyak tak bisa bersatu. Dalam politik, semuanya bisa bersatu. Bahkan dengan musuh bebuyutan sekali pun.