“B 2024 AHY” ke Istana

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - B 2024 AHY. Nopol. “Nomor politis”. Nomor mobil yang dikendarai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut sangat interpretatif. Prospektif. Ada semacam harapan bahwa AHY akan melenggang ke Istana pada Pilpres 2024.

Bisakah? Nah, itu dimulai saat mobil tersebut masuk Istana Merdeka, Kamis (2/5) lalu. AHY selaku Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat datang memenuhi undangan Presiden Jokowi.

Pertemuan bernuansa politik tersebut bisa mendinginkan suasana yang sekarang masih panas. Dan, bisa juga untuk menetralisir klaim kemenangan dari kubu Prabowo sekaligus menegaskan kemenangan Jokowi, walau masih sementara.

Baca Juga : Wabah Corona Sudah Renggut 43 Nyawa, Iran Larang Warganya Keluar Rumah

Pertemuan itu juga menegaskan pilihan politik jalan tengah yang ditunjukkan Demokrat. Selama ini, oleh sebagian pihak, Demokrat dinilai tak militan mendukung Prabowo. Sikap ini seperti membuka setengah pintu untuk melamar atau dilamar kubu Jokowi.

Sampai saat ini kubu Demokrat mengatakan masih setia di kubu Prabowo. Bulan depan, siapa yang tahu?

Memang butuh kerja keras bagi Demokrat untuk bergabung dengan koalisi Jokowi. Hambatannya, misalnya, kalau koalisi Jokowi merasa sudah cukup kuat dengan koalisi yang ada. Kuat di pemerintahah, kuat di parlemen. Sehingga, “tidak ada lowongan”. Tak perlu ada tambahan lagi. Tambahan anggota baru yang bisa mengurangi jatah orang lama.

Baca Juga : Tingkatkan Jumlah Penumpang, MRT Dorong Integrasi dengan Transjakarta

Hambatan lainnya, tetap pada Megawati. Seberapa pun kuatnya keinginan Jokowi untuk merangkul Demokrat, SBY dan AHY, tapi kalau tidak ada lampu hijau dari Megawati, tetap saja sulit.

SBY mengakui bahwa hubungannya dengan Megawati masih berjarak. “Hubungan saya dengan ibu Megawati, saya harus jujur, belum pulih, masih ada jarak… Bukannya tidak ada kehendak dari banyak pihak, tapi kenyataannya memang Tuhan Yang Maha Kuasa belum menakdirkan hubungan kami kembali normal,” kata SBY dalam sebuah jumpa pers di kediamannya, Juli, 2018 lalu.

Kalau pun Demokrat bergabung dan masuk kabinet, katakanlah AHY menjadi menterinya Jokowi, itu pun bisa dicurigai sebagai “membesarkan anak macan”. Memberi panggung ke AHY.

Baca Juga : Sinergi Perusahaan Anak BNI Dukung BNI Java Jazz Festival 2020

Salah satu syarat yang bisa menyatukan mereka adalah diduetkannya Puan dan AHY di Pilpres. Hanya saja, apakah perkawinan politik itu realistis dan punya daya jual tinggi?

Dalam politik, segala kemungkinan bisa terjadi. Selalu ada slogan “banyak jalan menuju romantisme”, hubungan mesra, bahkan dengan (mantan) musuh sekali pun.