SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Anda muda, pintar, cantik dan matang? Kalau merasa punya kriteria seperti itu, bersiaplah ditelepon orang Istana. Bukan untuk diajak diskusi soal pemuda. Tapi Anda akan ditunjuk sebagai menteri.

Ya, Jokowi sedang mencari menteri muda. Bukan menteri muda seperti di era Orde Baru, tapi menteri yang benar-benar muda usianya. Fresh. Milenial. Di era Orde Baru, menteri muda yang paling ngetop adalah Abdul Gafur yang menjabat Menteri Muda Urusan Pemuda di Kabinet pembangunan III.

Di kabinet berikutnya, Kabinet Pembangunan IV, Abdul Gafur terpilih lagi. Namun, jabatannya diganti menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.

Di era pemerintahan Jokowi periode pertama, pada 2014 lalu, menteri termuda diduduki Puan Maharani. Dia lahir di Jakarta, 6 September 1973. Saat itu masih 40 tahun. Di periode keduanya, Jokowi ingin memecahkan rekor. Mencoba yang baru.

Berita Terkait : Mengulang 2014?

Terobosan. Jokowi mencari menteri yang jauh lebih muda. Usianya sekitar 20-an tahun. Milenial. Cantik. Kalau cantik, pasti perempuan. Di negara lain, fenomena ini sudah biasa.

Yang paling popular di Indonesia tentu saja Menteri Olahraga Malaysia Syed Saddiq. Dia duduk di kursi menteri di usia 25 tahun. Waktu Asian Games tahun lalu di Jakarta, Syed sangat popular di Indonesia.

Banyak yang ngajak foto. Dia sempat satu mobil dengan Jokowi. Bikin vlog. Di Irlandia ada Simon Harris, Menteri Kesehatan. Usianya 29 tahun.

Ada juga yang usianya 22. Namanya Shamma Al Mazrui. Dia menjabat Menteri Negara Urusan Pemuda Uni Emirat Arab.

Berita Terkait : Reshuffle Lagi

Di Indonesia, kiprah pemuda di jajaran tinggi pemerintahan sebenarnya bukan barang baru. Soekarno, Hatta atau Sjahrir, memulai perjuangan dan memimpin negeri ini di usia sangat muda.

Sekarang, Jokowi sedang mencari anak muda untuk menjadi menteri. Usianya 20-an. Siapa dia? Kalau dilihat dari parpolnya, yang punya citra muda, antara lain Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ini partai anak-anak muda pendukung Jokowi.

Parpol lain yang lebih senior juga memiliki anak muda dari sayap muda partai. Semoga terjadi persaingan sehat. Tidak rebutan. Siapa yang akan terpilih? Menarik ditunggu.

Hanya saja, mau muda, mau tua, yang penting dewasa dan matang. Bukan yang mudah terkontaminasi “budaya politik lama”.

Berita Terkait : Popular Plus-plus

Dan perlu diingat, memilih menteri berusia muda, oke-oke saja. Namun yang kalah pentingnya: memecahkan masalah yang menimpa para pemuda. Masalahnya banyak sekali.***