Impor Guru

SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Indonesia pernah mengekspor guru ke Malaysia, sekarang Indonesia ingin mengimpor guru dari luar negeri. Orang Malaysia pernah belajar kedokteran di Indonesia, sekarang orang Indonesia yang berobat ke Malaysia.        

Ironi ini selalu diulang kalau membandingkan tingkat pendidikan di Indonesia dan Malaysia.        

Awalnya 1967. Malaysia  baru sepuluh tahun merdeka. Menteri Pendidikan Malaysia berkunjung ke Jakarta. Salah satu tujuannya, meminta bantuan guru dari Indonesia karena mereka sangat kekurangan tenaga pengajar.        

Keinginan itu kemudian ditegaskan kembali oleh PM Malaysia Tun Abdul Rajak saat Presiden Soeharto berkunjung ke Malaysia, 1970. Soeharto menyanggupi.        

Berita Terkait : Impor Gula Naik, Petani Tebu Resah


Saking semangatnya, Malaysia juga melakukan pendekatan langsung ke lapangan. Dirjen Perguruan Tinggi Malaysia Datuk Hamzah datang ke ITB. Di siang yang terik, seusai shalat Jumat di Masjid Salman ITB, Datuk Hamzah mencari dosen potensial. Ketemulah Imaduddin, dosen Teknik Elektro ITB.        

“Di Malaysia pada saat itu baru ada tiga orang sarjana S2, satu arsitek, satu orang dari teknik mesin, dan satu lagi dari civil engineering,” kata Imaduddin dalam salah satu bukunya.        

Imaduddin, biasa disapa Bang Imad,  menjadi rombongan awal yang berangkat ke Malaysia. Mereka diminta membuat kurikulum untuk Technical College, satu-satunya perguruan tinggi teknik di Malaysia. Warisan Inggris. Programnya baru D3. Belum S1.        

Malaysia tidak tinggal diam. Mereka tidak mau bergantung ke pihak asing. Secara besar-besaran, pelajar dan mahasiswa kemudian dikirim ke luar negeri.     

Berita Terkait : Petambak Garam Galau

Indonesia juga melakukan hal yang sama. Salah seorang mahasiswa yang berangkat ke Amerika di era bonanza minyak itu adalah Amien Rais. Dia kuliah di University of Notre Dame. Amien juga melanjutkan S3-nya di Chicago.     


Namun, menurut Amien, ada perbedaan antara Indonesia dan Malaysia: mahasiswa Indonesia jumlahnya segelintir, Malaysia ratusan. Banyak sekali.     

Mahasiswa Malaysia yang disebar ke berbagai negara itu kemudian dipanggil pulang. Ditugaskan membangun Malaysia.      

Hasilnya: beberapa tahun kemudian, Malaysia mendatangkan banyak tenaga kerja dari Indonesia. Namun, kali ini, bukan tenaga pengajar lagi seperti awal 70-an.        

Berita Terkait : Shampo

Universitas di Malaysia juga maju pesat. Berdasarkan QS World University Rankings, Universiti Teknologi Malaysia (UTM) yang kurikulumnya dirancang Imaduddin cs, berada di peringkat 228. Sementara ITB berada di peringkat 359. Universitas terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia (UI) berada di peringkat 292.    

Mengejar ketertinggalan, Indonesia kemudian ingin mengimpor pengajar, trainer dan instruktur. Di titik itukah sumber masalah pendidikan di Indonesia? Atau ada persoalan lain?

RM Video