Menerima Kemenangan dan Kekalahan

BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dalam sebuah kompetisi apapun, seluruh kontestan harus menyiapkan dua jenis mental. Mental siap menang dan siap kalah. Ya, siap untuk menerima kemenangan dan juga kekalahan.

Mengapa penting menyiapkan kondisi kejiwaan di atas? Dalam sebuah kompetisi kemungkinan ekstrim yang akan dihadapi cuma ada dua: menang atau kalah. Bisa juga hasilnya seri.

Tapi dalam sebuah kontestasi politik, harus ada yang keluar jadi pemenang, karena harus ada yang tampil memimpin. Sementara yang kalah, dalam konteks demokrasi, bisa memilih menjadi barisan oposisi.

Berita Terkait : 5 Tahun Lalu dan ke Depan

Ketika akhirnya memenangkan kompetisi politik, penting bagi mereka menenggang rasa kepada pihak yang kalah. Lakukan tasyakur kemenangan dengan cara yang santun dan merendah.

Bagi yang kalah, segera terima kekalahan dengan legawa. Bersiap-siap diri untuk mengambil peran sebagai kekuatan check and balance kekuasaan, lalu, siap bertarung di periode berikutnya.


Prasyarat semua ini tentu, penyelenggaran kontestasi politik harus benar-benar jujur dan adil. Masing-masing kontestan menjungjung tinggi fairplay dan sportifitas.

Berita Terkait : Medsos, Tong Sampah Hoax

Jangan ada kecurangan atau permainan kotor. Tidak boleh ada satu pun kontestan yang menggenggam nilai menghalalkan segala cara agar menang. Harus menjunjung tinggi fairness dalam prosesnya.

Sikap menerima kemenangan ditunjukkan dengan kesiapan untuk memimpin dengan segala konsepnya. Visi dan misi kepemimpinan, yang ditopang dengan kebijakan dan program yang kuat. Jangan kecewakan pemilih dengan ribut bertransaksi kursi kekuasaan berdasarkan porsi dukungan, bukan karena ahli/zaken.

Siap menerima kekalahan artinya siap dengan gentle mengakui kemenangan lawan. Siap menjadi sparing partner pemenang. Ikut mengawal proses penyelenggaraan pemerintahan, menjadi watch dog kekuasaan.

Berita Terkait : Menjaga Marwah MK

Kekuasaan yang absolut cenderung korup oleh karenanya perlu terus diawasi. Godaan penyelewengan kekuasaan slalu datang setiap saat, karenanya pengawasannya harus dilakukan secara melekat.

Tanggal 22 Mei ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil pemilu. Penting bagi para kontestan dan seluruh jajaran pendukungnya untuk menerima kemungkinan dua kenyataan: menang dan kalah.


Siapkan mental keduanya dengan proporsional. Semua untuk kemaslahatan negeri ini, menyongsong masa depan yang lebih cerah dan membanggakan semua. ***