BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM

RMco.id  Rakyat Merdeka - Lima tahun negeri ini dipimpin Presiden Jokowi. Tentu semua pantas bertanya dan mengevaluasi keputusan memilih (kembali) Jokowi sebagai pimpinan eksekutif tertinggi di republik ini hingga lima tahun mendatang.

Meski tentu belum bisa membuat penilaian final, karena masih ada lima tahun ke depan, setidaknya kita bisa melihat jejak yang telah dan harus diperbuatnya, kelak.

Menilai Jokowi bisa didasarkan kepada apa yang sudah dilakukannya lima tahun berlalu, yang memiliki nilai mengubah sesuatu jadi lebih baik dari sebelumnya. Beberapa perubahannya sudah terlihat, terdengar, dan terasa. Sejatinya pasti ada, bila sungguh pun tidak maka sungguh sangat terlalu.

Berita Terkait : Medsos, Tong Sampah Hoax

Cara menilai berikutnya tentu dengan cara jejak kebijakan dan programnya punya impact kelima tahun Jokowi mengimplementasi program jangka panjang yang menikmatinya bisa jadi lima tahun bahkan sepuluh tahun yang akan datang.

Bisa jadi dirasakan oleh masyarakat sekarang ini pahit dan tidak memberi efek apa-apa. Untuk model dan kebijakan seperti ini, selain perlu wisdom, juga kesabaran semua untuk ‘menelan pil pahit’ dari situasi perubahan yang sering tidak membuat nyaman.

Oleh karena itu, dalam situasi transisi lengkap dengan segala ketidaknyamanan dan ketergangguan, rakyat hanya perlu membanyak stok underatanding dan kesediaan menerima keadaan.

Berita Terkait : Menerima Kemenangan dan Kekalahan

Kita patut bangga dan bahagia, Presiden Jokowi masih tetap membawakan diri dengan jabatannya dengan cara dan gayanya yang merakyat. Pidato menyambut kemenangan dilakukannya di kampung padat di Jakarta, di Kampung Deret.

Tidak tampak jumawa, berlebih dalam membawa diri sebagai orang nomor satu. Masih seperti Jokowi seperti saat ia menjadi Walikota Solo, merakyat dan ndeso.

Orang-orang sekitar Presiden Jokowi, sudah mulai sayup-sayup terdengar ada yang berkeliaran meminta proyek. Atau cawe-cawe dalam mempengaruhi keputusan yang ditenggarai memberi keuntungan tidak langsung kepada Jokowi dan lingkar terdekatnya.

Berita Terkait : Kedaulatan Rakyat, Rakyat Mana?

Dalam hal ini, Jokowi harus terus berusaha meminimalisir munculnya orang-orang yang mengatasnamakannya untuk ikut main patgulipat.

Gaya komunikasi yang dibangun Presiden yang direct dan memotong perlu dilanjutkan, karena memungkinkan siapa saja yang merasa jadi korban malpraktek kekuasaan untuk komplain dan atau mengkonfirmasi langsung kepada Presiden.

Ini sungguh sangat penting ke depan, untuk keteladanan dan memelihara citra diri sebagai pemimpin bersih dan tengah memimpin bersih-bersih. ***