Identitas dan Semoga

SUPRATMAN
SUPRATMAN

RMco.id  Rakyat Merdeka - Faktanya begini: Di wilayah yang diasumsikan sebagai pemeluk agama mayoritas, kuat, Prabowo menang. Sebaliknya, di wilayah-wilayah yang mayoritas penduduknya memeluk agama minoritas negeri ini, juga kuat, Jokowi yang menang. 

Kita ambil contoh, tiga, berdasarkan hasil KPU. Prabowo menang besar di Aceh, Sumatera Barat dan NTB. Sedangkan Jokowi menang telak di Bali, Papua dan NTT. 

Beberapa wilayah yang dimenangi Jokowi maupun Prabowo di 2019 meningkat signifikan dibanding Pilpres 2014. Jokowi meningkat pesat di Bali dan NTT. Prabowo menebalkan kemenangan di Aceh dan Sumatera Barat. 

Apakah ini menggambarkan bahwa selama lima tahun, dari Pilpres 2014 ke 2019, politik identitas cenderung menguat? 

Berita Terkait : Menikmati Perbedaan

Politik identitas ibarat pisau bermata dua. Satu sisi menaikkan elektabilitas, di sisi lain justru menurunkan elektabilitas. 

Pemilu seperti ini bisa menjurus ke arah saling curiga. Pemilu semestinya tidak melahirkan perasaan saling-takut, saling merasa terancam serta saling curiga. Pemilih A curiga bahwa capres B akan menindas mereka kalau terpilih. Sebaliknya, pemilih B juga demikian. Terutama di sisi sosial-keagamaan. 

Kalau tak segera diantisipasi, pemilu lima tahun mendatang, 2024, akan lebih mengeras dan tajam lagi. Saling balas. Tak ada habisnya. 

Bahkan, untuk menonton TV pun ada pilihannya masing-masing. Penonton TV O menjauhi M TV. Sebaliknya, penonton M TV, tidak menyukai TV O. Ada citra dan kesan seperti itu. 

Berita Terkait : Lurus ke MK

Kalau pembelahan ini tambah tajam, keras dan melebar, maka bangsa ini sedang terancam. Apalagi di lingkup global, politik identitas juga menguat, sehingga membuat kita mestinya lebih mawas diri. 

Hasil penelitian banyak lembaga menunjukkan, indeks demokrasi di seluruh dunia, rata-rata mengalami penurunan. Terjadi resesi demokrasi yang tajam. 

Kemenangan Donald Trump di AS serta kemenangan kubu Brexit di Inggris yang memilih keluar dari Uni Eropa, menjadi ”ikon” menguatnya politik identitas. Semoga bangsa ini menyadari adanya potensi ancaman. 

Bahwa tingkat kesalehan meningkat di masing-masing identitas, iya. Tidak masalah. Tapi bermain-main dengan politik identitas (SARA), oleh siapa pun, kelompokmana pun, dalam pertarungan jangka pendek politik, bisa mempertebal sekat perbedaan. Ini ancaman. 

Berita Terkait : Mengulang 2014?

Alarm yang sudah berbunyi keras mestinya menjadi pengingat bahwa ada sesuatu yang mengganggu di bangsa ini. Jangan sampai, setelah berantakan kita baru tersadar. Terlambat. 

Semoga saja tidak. Tidak terjadi dan tidak terlambat. Semoga saja ini hanya fenomena sesaat, yang pada akhirnya akan baik-baik saja. Sekali lagi, semoga.