PSSI Berantas Kasus Pengaturan Skor

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. (Foto : PSSI).
Klik untuk perbesar
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. (Foto : PSSI).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia mulai beraksi dalam memberantas kasus pengaturan skor. Untuk kali pertama, pada kasus pengaturan skor, PSSI menjatuhkan hukuman kepada Mojokerto Putra (PSMP). Laskar Majapahit dilarang mengikuti kompetisi sepanjang 2019.

PSMP dinyatakan bersalah karena mengatur pertandingan pada kompetisi Liga 2 musim 2018. Kegiatan match fixing terjadi saat PSMP berhadapan dengan Kalteng Putra pada tanggal 3 dan 9 November 2018. Tak hanya itu, PSSI juga menjatuhkan hukuman berat kepada striker PSMP, Krisna Adi Darma. Bahkan, pemain bernomor 9 ini dihukum dilarang bermain sepak bola seumur hidup.

Berita Terkait : PSSI Agendakan Penyegaran dan Seleksi Wasit Liga 1

"Kami memiliki bukti-bukti yang kuat dari sejumlah pelanggaran match fixing yang dilakukan PS Mojokerto Putra. Demikian halnya dengan saudara Krisna Adi Darma. Karena itu merujuk kepada pasal 72 jo, pasal 141 Kode Disiplin PSSI, PS Mojokerto Putra dihukum larangan ikut serta dalam kompetisi PSSI tahun 2019 yang dilaksanakan PSSI," ungkap Ketua Komdis PSSI, Asep Edwin dilansir dari laman resmi PSSI (23/12).

Sementara itu, Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria menyatakan, langkah penjatuhan sanksi ini merupakan komitmen tegas PSSI untuk mengatasi masalah match fixing. Menurutnya, apabila ditemukan indikasi di mana hukum sepak bola tidak lagi dapat menjangkau, maka PSSI akan berkoordinasi dengan Kepolisian RI. Apalagi, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian juga bertindak sebagai komando dari tim Satgas Mafia Bola. ”Kita juga tengah menyiapkan tim Ad Hock sinergi integritas. Komite ini dibentuk untuk tugas khusus dan dalam periode yang khusus," tandas Ratu Tihsa.

Baca Juga : Warga Minta Perbaikan Total, Jangan Setengah-setengah

Dia menambahkan, awal Januari 2019 mendatang, PSSI merencanakan menggelar pertemuan dengan Kepolisian RI sekaligus mengundang FIFA untuk membicarakan langkah strategis pasca kasus match fixing tersebut. [WUR]